Suatu hari, aku menjadi salah satu diantara puluhan orang, bertumpuk menanti dalam sebuah antrian yang cukup melelahkan di halte busway. Tak ada busway yang lewat, kecuali penuh sesak dan hanya orang yang siap ‘bunuh diri’ yang mau masuk. Hehehehe
Menunggu lebih dari sejam, bukan jumlah waktu yang baik untuk kota sesibuk Jakarta. Jadwal yang menuntut dan pekerjaan yang bertumpuk. Namun, pemandangan itu bagi kota besar ini, bukanlah hal yang asing. Kemacetan lalu lintas, polusi udara yang melewati batas wajar, dan ribuan kisah pilu yang lain.
Sambil tetap berdiri menunggu busway yang mampu menampung tubuh dan egoku, kucoba memuji Allah. Alhamdulillah, hati ini pun masih sabar. Tapi ada satu hal yang sepertinya tak terobati oleh sabar. Saluran pernafasanku sepertinya terlalu agresif meberikan ucapan selamat datang kepada tamu-tamunya. Sudah barang tentu, udara kotor bukanlah tamu yang baik tuk sejumlah organ di dalam tubuhku. Rasa mual pun mulai aktif menggerayangi perut dan tenggorokanku. Bila tetap bertahan, aku khawatir akan membuat sensasi yang tak terlupakan seumur hidup. Muntah di hadapan orang banyak. Hmmmm, sensasi yang memalukan tentunya. Tanpa pikir panjang, kugeser kaki kananku ke belakang mendapatkan ruang yang memungkinkan tuk mundur. Seseorang nyeletuk kasar, sepertinya tak terima dengan tindakan itu. Tapi protes itu menyadarkan aku, bahwa di balakang ternyata lebih banyak orang yang tidak lebih beruntung.
Kucoba melayangkan fikiranku ke kiri dan ke kanan. Mendapatkan hal-hal yang pantas tuk mengalihkan perhatianku, agar tidak diserang rasa bosan dan semoga mampu menghilangkan rasa mual yang nampaknya masih memberi toleransi. Hmmmh... polusi udara telah malapaui batas wajar; kemacetan yang tak tertangani; aturan yang semakin banyak, semakin menambah jumlah pelanggaran; masalah moral, seperti hilagnya rasa malu; wanita-wanita tak lagi risih mempertontonkan aurat; tanpa rasa beban bercampur baur pria-wanita; itu semua masalah kecil untuk ukuran suatu bangsa. Bagaimana dengan pejabat-pejabat bejat, aparat yang suka senyum karena duit, mafia peradilan, dan mentahnya aturan-aturan hukum baik agama maupun negara oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab serta terlalu banyak masalah yang tak terselesaikan.
Ohhh.. sayang, kalau aku jadi mahasiswa, mungkin aku suka teriak-teriak. kalau aku polisi, dengan senang hati membendung aksi protes. Kalau jadi pejabat....., mungkin aku jadi koruptor. Jadi masyarakat biasa? Yah diobok-obok tontonan, jadi penonton terbaik. Untungnya aku jadi diriku sendiri. Kalau mau jujur, andai aku jadi peresiden, pasti aku tidak mampu.
Wah... parah nih, waktu dah lewat banyak. Sebuah busway singgah. Penuh lagi, yah ga apa-apalah. bismillahirrahmanirrahiiim
Dan untuk para pemimpin bangsa, semoga mereka diberikan taufiq dan hidayah dari Allah untuk mampu menjalankan tugas mereka dengan baik, serta mau berubah dan berusha untuk memenuhi hak-hak rakyatnya dengan baik. Meskipun tak mampu sempurna, karena mereka juga makhluk. salam serta shalawat kepada Nabiullah muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam beserta para keluarga dan sahabatnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar