Ahlan wa sahlan

assalamu alaikum bagi anda saudaraku yang menyempatkan diri bersua dengan buah penaku. Semoga anda mendapatkan manfaat dan sudi berbagi pengalaman dan ilmu dengan ana

Kamis, 25 November 2010

ISTIRJAA’ (innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun)



Firman Allah Ta’ala : “dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu berupa sedikit ketakutan , kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang bersabar.  Yaitu orang-orang yang ketika mereka ditimpa musibah, mereka mengucapkan  ‘inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un.” QS. Al Baqarah :155-156
Umar bin khattab radhiallahu anhu berkata tentang ayat ini, “ sungguh dua perkara  yang  sangat indah yaitu shalawat dan rahmat  yang Allah janjikan kepada orang  yang bersabar dan selain itu Allah juga menjadikan mereka orang-orang yang mendapat petunjuk dari -Nya . Ayat ini menunjukkan keutamaan kalimat penuh berkah  ‘innaa lillahi wa inna ilaihi raaji’un’  yang hendak nya setiap muslim bersegera mengucapkannya  setiap tertimpa musibah. Musibah apapun itu, seperti kehilangan harta, meninggalny a orang—orang  yang dicintai, kerugian dalam perdagangan, dan selainnya. Tidak seperti kebanyakan orang yang bila ditimpa musibah, mereka selalu mengucapkan hal-hal yang tidak diridhai oleh Allah.
Salah satu contoh terbaik tentang hal ini adalah kejadian yang terjadi pada  Ummu Salamah sebagaimana yang diriwayatkan oleh imam ahmad dan Muslim rahimahumallah,
Dari ummu salamah bahwasannya ia berkata. Suatu hari Abu Salamah datang kepadaku setelah dia bertemu Rasulullah Shallalahu ‘alaihi w sallam, lalu ia berkata, “ saya sungguh mendengar dari rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sebuah perkataan yang membuatku gembira. Beliau bersabda , “tidak seseorang dari kaum muslimin ditimpa musibah lalu ia beristirja’ (mengucapkan : innaa lillahi wa inna ilaihi raaji’uun) lalu ia berdoa : ‘yaa Allah , berikanlah pahala kepadaku atas musibah yang menimpaku ini, dan gantikanlah dengan yang lebih baik darinya’, kecuali Allah akan mengabulkannya.” Ummu Salamah berkata: Lalu akupun menghafal kalimat itu. Ketika Abu Salamah meninggal dunia , aku beristirja’ dan berdo’a ‘yaa Allah , berikanlah pahala kepadaku atas musibah yang menimpaku ini, dan gantikanlah dengan yang lebih baik darinya’. Lalu aku pun berkata, “siapakah yang lebih baik dari Abu Salamah? Ketika masa iddahku habis, RAsulullah pun dating kepadaku dan meminta izin untuk masuk. Saat itu aku sedang menyamak kulit, lalu akupun mencuci tanganku dan memberikan izin kepada RAsulullah untuk masuk. Saya meletakkan bantal untuk RAsulullah dan ia pun duduk di atasnya. Kemudian beliau melamarka. Ketika beliau shallallahi ‘alaihi wa sallam selesai berbicara, aku pun berkata, ‘wahai Rasulullah, mana mungkin aku tidak mempunyai keinginan padamu, tapi aku adalah wanita yang sangat pencemburu, aku takut kelak kau akan mendapati sesuatu pada diriku yang karenanya aku diadzab oleh Allah. Aku pun telah berusia lanjut dan memiliki banyak anak.” Maka rasulullah pun barsabda: “Adapun yang kau katakana tentang kecemburuan, maka Allah akan menghilangkannya darimu. Sedangkan tentang umur yang kau sebutkan, maka aku pun mengalami hal yang serupa. Dan anak-anak yang kau sebutkan, maka anakmu adalah anakku.” Maka RAsulullah pun menikahinya. Lalu Ummu Salamah berkata : “Allah menggantikan Abu Salamah untukku dengan yang lebih baik darinya, yaitu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Makna kalimat istirja.
Ruu’ Abu Nuaim dalam  kitab Hilyatul Auliyaa meriwayatkan dari hasan ibn abd ‘aabid yang mengisahkan bahwa Fudhail  bin Iyadh berkata kepada seorang pria, “berapa umurmu?”
Pria itu berkata,“60 tahun.” Fudhail pun berkata, ” sesungguhnya sejak 60 tahun kau sedang berjalan menuju Tuhanmu (menjuju kematian meninggalkan dunia) dan sebentar lagi akan sampai. Pria itu lalu berkata, “ yaa Aba Ali (kunyah Fudhail bin iyadh) , innaa lillahi wa innaa ilaihi raajiuun.” Fudhail berkata , “apa yang kamu katakan? Ia menjawab,  “aku mengatakan innaa lillahi wa innaa ialaihi raajiun.” Fudhail berkata, “Tahukah kamu apa yang kamu katakan? Tahukah kamu tafsirnya? Ia menjawab, “Tidak.  Tafsirkanlah padaku wahai Aba ‘Ali!.”
Fudhail lalu menjelaskan, “perkataanmu ‘innaa lillah” maksudnya adalah aku adalah hamba Allah. Dan perkataanmu “wa Innaa ilaihi raajiun” berarti engkau akan kembali kepada Allah. Maka barangsiapa yang mengetahui bahwa dia adalah ciptaan Allah, milik Allah dan akan kembali pada-Nya, maka dia mesti tahu bahwa dia akan berdiri di hadapan Allah, dan barangsiapa yang tahu bahwa dia akan berdiri di hadapan Allah dan akan ditanya tentang apa yang dilakukannya di dunia, maka hendaklah ia mempersiapkan jawabannya di hadapan Allah.”
Maka orang itu pun terkejut dan sadar bahwa selama ini ia salah. Ia belum mempersiapkan jawaban yang akan diberikan kepada Allah subhanahhu wa ta’ala. Maka ia berkata, “jadi bagaiman jalan keluarnya?”
Maka fudhail pun berkata, “Mudah, Perbaikilah sisa umurmu, maka akan di ampuni dosa-dosamu di masa lalu. Jika engkau melakukan keburukan pada sisa umurmu, maka Allah akan mengadzabmu akan dosa-dosamu di masa lampau dan yang akan datang.”
Lalu Fudhail pun menangis dan berdo’a, “Semoga Allah menjadikan kita dalam golongan orang-orang yang memperbaiki sisa umurnya.”
Diantara hikmah yang dapat kita ambil dari hikmah kisah di atas adalah banyak orang yang sering mengucapkan kalimat istirja’ tapi tidak tahu maknanya.
Kalimat ini mengandung dua hal yang agung dan dapat menjadi obat yang sangat ampuh. Bila seorang hamba mampu memahami makna kalimat ini, maka akan tenang hatinya dan menjadi penghibur yang terbaik untuknya serta akan mendapatkan pahala yang besar. Kedua hal tersebut adalah:
1. Ketika mengucapkan kalimat istirja’, seorang hamba  mengakui bahwa dirinya, anaknya, hartanya dan semua yang ia miliki adalah milik Allah, dan Allah berhak melakukan apa saja yan Ia inginkan kepada mereka. Karena Allah lah yang menciptakan dan berhak melakukan apa saja kepada mereka. Tidak ada yang bisa merubah atau menolak keputusan Allah. Hal ini terkandung dalam kalimat ‘innaa lillahi = kami ini sesungguhnya milik Allah’. Allah ta’ala berfirman,
Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (lauhil mahfudz) sebelum kami menciptakannya. Sesungguuhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” QS. Al Hadid : 22
Seorang hamba yang menyakini hal ini akan menerima taqdir Allah dan tidak mendustakannya. Ibnu Abbas Radhiya Allahu anhuma  pernah berkata “Iman kepada Takdir Allah merupakan Nidzom (Aturan) tauhid, Barangsiapa yang mengimani Allah akan tetapi mendustakan takdir Nya maka pendustaannya tersebut mendustakan tauhidnya” . Diantara hal yang bisa menjelaskan hal ini adalah perkataan Imam Ahmad bin Hanbal bahwa, “Takdir adalah kekuasaan Allah Ta’ala, karena Allah Ta’ala Maha Kuasa atas segala sesuatu maka seseorang yang mendustakan takdir berarti dia telah mendustakan kekuasaan Allah Ta’ala”.
Imam Hasan Al Bashri menyatakan “barangsiapa yang mendustakan takdir Allah Ta’ala maka dia telah mendustakan Islam”
2. seorang hamba harus tahu bahwa kepada Allah lah mereka kembali. Sebagaimana firman Allah,
Sesungguhnya hanya kepada tuhanmulah kamu kembali.” QS Al ‘Alaq : 8
Dan firmannya pula, “Dan bahwasannya kepada Tuhanmulah kesudahan segala sesuatu”  QS An Najm : 42
Setiap hamba apasti akan meninggalkan dunia dan menuju Allah subhanahu wa ta’ala. Tidak ada yang kita bawa kecuali kebaikan dan keburukan. Inilah yang tersirat dalam ayat ‘dan kepadanyalah kami  sungguh akan kembali” maka hendaklah ia melakukan yang terbaik bagi dirinya untuk dipertanggung jawabkan di akhirat nanti.
Janji bagi orang yang beristirja dan memuji Allah
Rasulullah shhall;allahu a’alihi wa sallam bersabda, “Bila anak dari salah seorang hamba Allah meninggal, Allah bertanya kepada malaikat, ‘Apakah kalian mencabut nyawa anak hambaku?’. Malaikat pun menjawab, ‘iya, ya Allah’. Allah bertanya lagi, ‘apakah kalian mencabut ruh buah hatinya?’. Malaikat menjawab, ‘Ia, ya Allah.’ ‘Lalu apa yang diucapkan oleh hambaku itu?’ tanya Allah kembali. Malaikat menjawab, ‘ia mengucapkan alhamdulillah lalu beristirja’ (mengucapkan innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun)’. Maka Allah berkata, ‘bangunkan baginya rumah di surga dan beri nama baitul hamd.” HR At Tirmidzi



Tidak ada komentar:

Posting Komentar