Ahlan wa sahlan

assalamu alaikum bagi anda saudaraku yang menyempatkan diri bersua dengan buah penaku. Semoga anda mendapatkan manfaat dan sudi berbagi pengalaman dan ilmu dengan ana

Rabu, 10 November 2010

Mengapa saya tidak boleh ikut-ikutan???

Kehidupan bermasyarakat pada zaman modern ini, memang merupakan tantangan yang berat. Apalagi, jika harus mempertahankan kemurnian agama dan menghidupkan ajaran Islam yang benar. Dengan alasan perkembangan zaman, terlihat sebagian besar kaum muslimin terjebak dalam gemerlap yang menyilaukan mata dan mengalahkan iman mereka. Suasana pun menjadi terbalik, apa yang seharusnya dibenarkan menjadi salah dan apa yang seharusnya hina, seringkali dianggap benar. Meskipun, mereka harus memaksakan apa yang sebenarnya bertentangan dengan fitrah mereka.

Kesalahan yang membudaya ini, tanpa disadari telah menyeret sebagian kaum muslimin kepada rusaknya agama dan keyakinan mereka. Gaya hidup yang seharusnya tidak dimiliki seorang muslim menjadi hal yang lumrah. Misalnya saja pemuda muslim yang ikut merayakan natalan dengan teman-teman non muslimya, perayaan tahun baru, valentine day, perayaan ulang tahun, dan lain sebagainya. Mungkin bagi mereka yang berkantong tebal atau anak dari seorang konglomerat, hal ini tidak terlalu sulit. Tapi mereka yang hidup pas-pasan, harus berpikir untuk merogoh kocek. Namunpun demikian, peristiwa-peristiwa tersebut adalah sesuatu yang sakral, rugi untuk dilewatkan tanpa kesan, sesibuk apapun mereka. Keadaan seperti ini pun, tidak sedikit menimbulkan berbagai tindak kriminal. Lalu, berapa banyak kaum muslimin yang menyempatkan beberapa saat untuk menjawab panggilan muadzdzin ketika waktu shalat tiba???

Sadarkah kita selama ini, bahwa dengan ikut memeriahkan dan melaksanakan natalan, perayaan tahun baru, valentine day, perayaan ulang tahun, dan sebagainya telah melukai keislaman kita? Bahkan mengucapkan selamat kepada mereka, berarti memberi selamat atas sujudnya mereka kepada tuhan selain Allah serta melaksanakan kebatilan dan kemaksiatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bila di telusuri, momen-momen tersebut memang berasal dari kaum kafir dan merupakan syiar agama mereka. Sementara telah diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wa Sallam:

Dari anas ia berkata Rasulullah shallallahu alaihi wa Sallam bersabda: “Rezekiku telah dijadikan berada di bawah bayangan panahku dan dijadikan kehinaan dan kekerdilan atas orang yang menyelisihi aku, dan barangsiapa yang meniru-niru suatu kaum, maka ia termasuk dalam golongan kaum itu” (HR Abu Naim dan adz dzahabi)

Hadits tersebut merupakan ancaman dan larangan untuk meniru-niru kaum kafir dalam perayaan dan syiar mereka , meskipun dimaksudkan untuk kebaikan. Sufyan Ats Tsaury berkata : “Para ahli fiqh berkata: tidak benar suatu perkataan kecuali dengan mengamalkannya, dan tidak benar perkataan dan perbuatan kecuali dengan niat, dan tidak benar per perkataan, perbuatan dan niat kecuali dengan niat yang sesuai dengan sunnah.

Sebagian kaum muslimin menganggap bahwa ikut meramaikan atau sekedar bergembira dan mengucapkan selamat kepada orang-orang kafir pada saat perayaan hari-hari besar mereka adalah hal yang sepele dan tidak berpengaruh sama sekali dalam kehidupan beragamanya sendiri. Tentu ini adalah anggapan yang salah dan tdak dapat diterima sebagai orang yang menjaga kehormatan agama dan dirinya. Para Ulama telah membahas hal-hal semacam ini, di antranya uraian yang dipaparkan oleh syaikhul islam ibnu Taimiyah dalam kitabnya Iqtidho’ Ash Shiraatil Mustaqiim lii mukhaalafati ashaabal jahiim, jilid pertama, tentang bahaya kaum muslimin yang ikut andil dalam perayaan kaum kafir:

1) Setiap perayaan atau hari besar merupakan syiar dan manhaj yang dijadikan oleh Allah bagi setiap ummat yang padanya ada syariat dan manhaj. Allah azza wa jalla berfirman : “Bagi setiap umat telah kami tetapkan syariat tertentu yang mereka amalkan. Maka tidak sepantasnya engkau berbantahan dalam urusan (syariat) ini. Serulah kepada Tuhan-mu. Sungguh, engkau (Muhammad) berada pada jalan yang lurus.” (QS. Al Hajj : 67)

Kaum muslimin memiliki hari raya tersendiri yaitu ‘idul adha dan ‘idul fitri. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “wahai Abu Bakr! Sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya, dan sesungguhnya hari ini adalah hari raya kita” (HR Bukhari & Muslim)

2) Setiap yang mereka lakukan pada perayaan mereka adalah maksiat, karena bila itu bukan bid’ah yang diada-adakan, ataukah perayaan yang telah dihapuskan oleh Allah. Seperti 2 hari raya jahiliah yang di temukan oleh rasulullah di Madinah, Rasulullah berkata: “dua hari apa ini?” mereka berkata : “dahulu kami bermain pada dua hari inidi masa jahiliyah”. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menggantikan dua hari raya itu dengan dua hari raya yang lebih baik untuk kalian: Hari idul Adha dan Hari idul fitri.” (HR Abu Daud ) dan penggantian sesuatu mengharuskan ditinggalkannya apa yang telah di ganti;

3) Seorang muslim yang ikut andil dalam sedikit atau beberapa hal kecil dalam perayaan mereka , maka akan membawanya kepada yang lebih besar dan banyak. Kemudian apabila perayaan itu telah tersebar luas, mulailah orang-orang awam ikut mengerjakan, lalu asal muasal kegiatan tersebut mulai dilupakan, hingga menjadi perayaan yang membudaya.

4) Perkara ini telah menyebabkan kaum muslumin tidak tahu bahwa mereka telah mengikuti kaum nasrani dan selainnya dalam perayaan hari besar mereka dan beberapa hal seperti bid’ah dan kemungkaran-kemungkaran yang lain. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : “Tidaklah suatu kaum melakukan satu perkara bid’ah, kecuali Allah mencabut dari mereka dari sunnah yang semisalnya.” (HR Al Imam Ahmad)

5) Meniru-niru kaum kuffar dalam perayaan mereka, menyebabkan kegembiraan mereka di atas kebatilan. Mereka lalu menganggap kaum muslimin telah menjadi bagian dari syiar agama mereka. Ketakutan mereka terhadap kaum muslimin pun hilang dan menguatkan hati mereka atas kaum muslimin.

6) Diantara yang dilakukan di dalam perayaan mereka adalah kekufuran , keharaman atau hal yang mubah dan tidak nampak perbedaannya. Maka jatuhnya seseorang kedalam sesuatu yang tidak jelas keharamannya, menyebabkan ia jatuh kedalam keharaman yang nyata. Seperti itulah kenyataannya.

7) Perbuatan mencontek atau meniru-niru yang dilakukan oleh kaum muslimin terhadap kaum kafir merupakan dukungan terhadap mereka. Tentunya, hal itu sangat berbahaya bagi agamanya,

8) Tasyabbuh (meniru-niru) akan mewariskan rasa cinta dan kasih saying diantara orang yang meniru dan ditiru

Tidak ada komentar:

Posting Komentar