Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “katakanlah (Muahammad), “Tuhanku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang terlihat ataupun yang tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan zalim tanpa alasan yang benar, dan mengharamkan kamu menyekutukan Allah dengan sesuatu, sedangkan Dia tidak menurunkan alasan untuk itu. Serta mengharamkan kamu membicarakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al A’raf : 33)
Akhir-akhir ini, jutaan pasang bibir d ibangsa terjebak dalam perbincangan hal-hal yang semakin hari semakin aneh, mulai dari video mesum pasangan artis, maraknya pemain-pemain film porno asing yang ditarik oleh produser-produser film Indonesia untuk meramaikan kancah sandiwara kaca di tanah air, kasus tuduhan pelecehan seksual terhadap seorang tokoh agama, kerusuhan di berbagai penjuru tanah air yang disebabkan hal-hal sepele dan lain sebagainya.
Lalu bagaimana pula halnya, bila yang menjadi sorotan adalah sekelompok orang yang sering menarik perhatian khalayak dengan melakukan aksi-aksi teror bak aksi yang biasa disuguhkan dalam film-film laga, mengganggu stabilitas keamanan, mengancam jiwa, keselamatan harta, darah, akal dan kehormatan, lantas mengklaim diri membangun pola pikir di atas agama Islam. Bahkan yang paling berbahaya adalah perbuatan mereka telah mencoreng kehormatan Islam dengan menisbatkan diri kepadanya. Telah berjatuhan korban dari mereka yang tidak bersalah dan orang-orang yang dijamin darahnya oleh Islam.
Para ulama dan cendekiawan muslim di berbagai belahan dunia tak tinggal diam dan mengecam tindak pengrusakan bumi dan pencorengan terhadap agama ini. Mereka duduk bersama dan meneliti serta menelaah persoalan ini, hingga sampailah mereka pada kesepakatan haramnya perbuatan ini, serta menyuarakan penolakan dan memberikan peringatan keras terhadap pelaku-pelakunya. Seperti yang dilakukan persatuan ulama-ulama besar Saudi Arabia. Mereka melihat ini sebagai dosa besar yang tidak mungkin dilakukan oleh orang-orang yang berdiri tegak di atas pemahaman yang benar terhadap Al Qur’an dan Sunnah , serta mereka yang berpegang teguh pada tali Allah yang kuat.
Islam sebagai agama penuh kasih sayang, mengharuskan setiap pemeluknya untuk melindungi dan menjadi sebab tetap utuhnya 5 hal yang sangat urgen dalam kehidupan manusia, yaitu agama, jiwa, darah, akal, kehormatan dan harta benda. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam pada hari arafah ketika haji wada’ berkhutbah di hadapan para sahabatnya, “Sesungguhnya darah kalian, harta kalian dan kehormatan kalian haram atas kalian, sebagaimana haramnya hari (arafah) kalian ini, pada bulan (dzulhijjah) kalian ini, di negeri (makkah) kalian ini. Bukankah telah aku sampaikan? Yaa Allah, saksikanlah.” (muttafaqun alaihi). Dalam sabdanya yang lain, “Setiap muslim atas muslim yang lainnya haram darahnya, harta dan kehormatannya.” (HR Muslim). Bahkan orang kafir yang mengikat perjanjian dengan kaum muslimin pun haram ditumpahkan darahnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang membunuh orang yang mengikat perjanjian dengan kaum muslimin, ia tidak akan mencium bau syurga. Sesungguhnya baunya dapat tercium dari jarak perjalanan empat puluh tahun” (HR. Ahmad, Bukhari, an Nasai dan ibnu majah)
Pembuat syariat yang Maha Mulia telah menjelaskan betapa pentingnya penjagaan terhadap lima hal tersebut dan juga telah menjelaskan bahaya dan ancaman hukuman bagi mereka yang melanggarnya. Allah ta’ala berfirman :
“Oleh karena itu Kami tetapkan suatu hukum bagi Bani Israil, bahwa barang siapa yang membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain atau bukan karena mambuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah ia telah memelihara kehidupan seluruh manusia. Sesungguhnya Rasul kami telah datang kepada mereka dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas. Tetapi kemudian banyak di antara mereka setelah itu melampaui batas di muka bumi.” (QS. Al Maaidah : 32)
Tidaklah layak bagi seorang muslim memandang hal ini sebagai persoalan sepele. Allah telah menyiapkan bagi mereka balasan dan kehinaan yang setimpal di dunia dan di akhirat, dan Allah adalah seadil-adilnya pembuat keputusan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“Hukuman bagi orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka secara menyilang, atau diasingkan dari tempat kediamannya. Yang demikian itu kehinaan bagi mereka di dunia dan di akhirat mereka mendapatkan adzab yang besar.” (QS. Al Maidah : 33)
Memang tak dapat disangkal, bahwa tidaklah mudah bagi mereka menjual agama ini sebagai barang dagangan yang laris untuk menjadi kedok. Sehingga, mereka harus mempersiapkan diri dengan hujjah dan argumentasi serta segala hal yang dapat menjadi penyokong yang kuat. Tak jarang kita dapati tokoh-tokoh mereka mengisi majelis-majelis taklim, forum-forum kajian, forum debat terbuka dan lainnya. Bahkan, sebahagian mereka mampu melontarkan pernyataan-peryataan yang bagaikan sihir dan melahirkan rasa takjub. Seketika itu, mereka mampu menanamkan faham-faham radikal dan sembrono yang menyalahi faham para ulama ahlussunnah.
Allah ta’ala menggambarkan keadaan mereka dalam firman-Nya:
“Dan di antara manusia, ada yang pembicaraaan mereka tentang kehidupan dunia mengagumkan engkau dan dia bersaksi pada Allah tentang isi hatinya, Padahal dia adalah penentang yang palling keras. Dan apabila dia berpaling (dari engkau), dia berusaha membuat kerusakan di muka bumi, serta merusak taman-tanaman dan ternak, sedang Allah tidan menyukai kerusakan.” (QS. Al Baqarah : 204 -205)
Dan firman Allah ta’ala yang lainnya:
“dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi setelah (diciptakan) dengan baik.” (QS. Al A’raf : 56)
Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Allah subhanahu wa Ta’ala melarang segala bentuk pengrusakan dan segala yang membahayakan di atas permukaan bumi setelah diadakannya perbaikan. Karena sesungguhnya bila keadaan telah berlangsung baik, lalu terjadi pengrusakan setelah itu, maka tentu itu lebih besar mudharatnya bagi seorang hamba.”
Demikian pula Imam al Qurthubi rahimahullah ketika mejelaskan ayat ini dalam tafsirnya mengatakan, “Allah subhanahu wa ta’ala melarang segala bentuk pengrusakan sedikit atau pun banyak, setelah diadakannya perbaikan sedikit atau pun banyak.”
Sesungguhnya Rasul yang mulia telah memperingatkan umatnya agar tidak berlebih-lebihan dan melampaui batas. Sesungguhnya sifat berlebih-lebihan merupakan sebab kehancuran, penghalang manusia dari cahaya Islam, manyimpangkan mereka dari manhaj yang lurus dan adil, penuh rahmat, mudah dan penuh kelembutan. Sikap berlebih-lebihan adalah kedzaliman terhadap diri sendiri dan orang lain, yang akan menjerumuskan pelakunya ke dalam kegelapan yang nyata di akhirat kelak, katika cahaya memancar di hadapan dan di samping kanan orang-orang yang beriman.
Sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Janganlah kalian berbuat kedzaliman (di muka bumi), karena kedzaliman itu merupakan kegelapan pada hari kiamat kelak.” (HR. Muslim)
Sabda beliau pula, “Janganlah sekali-kali kalian bersikap berlebih-lebihan, karena sesungguhnya yang menghancurkan umat-umat sebelum kalian adalah berlebih-lebihan.” (HR. Imam Ahmad)
Apapun alasan yang mereka gunakan, hingga merasa berhak menumpahkan darah manusia dengan cara yang batil, menyebarkan ancaman dan kerusakan di muka bumi, tetap tidak dapat dibenarkan oleh syariat, fitrah manusia dan akal yang sehat. Sekarang, yang wajib dilakukan oleh kaum muslimin di manapun mereka berada adalah saling berwasiat dalam kebenaran, nasihat menasihati dan tolong menolong dalam ketaatan dan ketaqwaaan pada Allah ‘Azza wa Jalla, menyeru kepada kebajikan dan mencegah kemungkaran dengan cara yang bijaksana, memberikan contoh yang baik dan berdiskusi dengan cara yang benar di atas manhaj yang haq. Allah Ta’ala berfirman: “Dan Tolong menolonglah kamu dalam kebajikan dan taqwa, dan janganlah saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan. Bertaqwalah kepada Allah. Sungguh Allah sangat pedih siksaan-Nya.” (QS. Al Maidah : 2)
Kita memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan nama-nama-Nya yang baik dan sifat-sifat-Nya yang tinggi untuk menjauhkan bahaya dari kaum muslimin, serta memberikan taufik kepada segenap pemimpin kaum muslimin kearah kebaikan masyarakat muslim dan negeri-negeri mereka, serta menghapuskan kerusakan dan pelaku-pelaku pengrusakan tersebut. Semoga Allah menolong agama-Nya melalui mereka, meninggikan kalimat-Nya dan memperbaiki keadaan kaum muslimin. Hanya Allahlah yang mampu melakukannya. Salam dan shalawat kepada tauladan kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya.