Ahlan wa sahlan

assalamu alaikum bagi anda saudaraku yang menyempatkan diri bersua dengan buah penaku. Semoga anda mendapatkan manfaat dan sudi berbagi pengalaman dan ilmu dengan ana

Kamis, 25 November 2010

ISTIRJAA’ (innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun)



Firman Allah Ta’ala : “dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu berupa sedikit ketakutan , kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang bersabar.  Yaitu orang-orang yang ketika mereka ditimpa musibah, mereka mengucapkan  ‘inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un.” QS. Al Baqarah :155-156
Umar bin khattab radhiallahu anhu berkata tentang ayat ini, “ sungguh dua perkara  yang  sangat indah yaitu shalawat dan rahmat  yang Allah janjikan kepada orang  yang bersabar dan selain itu Allah juga menjadikan mereka orang-orang yang mendapat petunjuk dari -Nya . Ayat ini menunjukkan keutamaan kalimat penuh berkah  ‘innaa lillahi wa inna ilaihi raaji’un’  yang hendak nya setiap muslim bersegera mengucapkannya  setiap tertimpa musibah. Musibah apapun itu, seperti kehilangan harta, meninggalny a orang—orang  yang dicintai, kerugian dalam perdagangan, dan selainnya. Tidak seperti kebanyakan orang yang bila ditimpa musibah, mereka selalu mengucapkan hal-hal yang tidak diridhai oleh Allah.
Salah satu contoh terbaik tentang hal ini adalah kejadian yang terjadi pada  Ummu Salamah sebagaimana yang diriwayatkan oleh imam ahmad dan Muslim rahimahumallah,
Dari ummu salamah bahwasannya ia berkata. Suatu hari Abu Salamah datang kepadaku setelah dia bertemu Rasulullah Shallalahu ‘alaihi w sallam, lalu ia berkata, “ saya sungguh mendengar dari rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sebuah perkataan yang membuatku gembira. Beliau bersabda , “tidak seseorang dari kaum muslimin ditimpa musibah lalu ia beristirja’ (mengucapkan : innaa lillahi wa inna ilaihi raaji’uun) lalu ia berdoa : ‘yaa Allah , berikanlah pahala kepadaku atas musibah yang menimpaku ini, dan gantikanlah dengan yang lebih baik darinya’, kecuali Allah akan mengabulkannya.” Ummu Salamah berkata: Lalu akupun menghafal kalimat itu. Ketika Abu Salamah meninggal dunia , aku beristirja’ dan berdo’a ‘yaa Allah , berikanlah pahala kepadaku atas musibah yang menimpaku ini, dan gantikanlah dengan yang lebih baik darinya’. Lalu aku pun berkata, “siapakah yang lebih baik dari Abu Salamah? Ketika masa iddahku habis, RAsulullah pun dating kepadaku dan meminta izin untuk masuk. Saat itu aku sedang menyamak kulit, lalu akupun mencuci tanganku dan memberikan izin kepada RAsulullah untuk masuk. Saya meletakkan bantal untuk RAsulullah dan ia pun duduk di atasnya. Kemudian beliau melamarka. Ketika beliau shallallahi ‘alaihi wa sallam selesai berbicara, aku pun berkata, ‘wahai Rasulullah, mana mungkin aku tidak mempunyai keinginan padamu, tapi aku adalah wanita yang sangat pencemburu, aku takut kelak kau akan mendapati sesuatu pada diriku yang karenanya aku diadzab oleh Allah. Aku pun telah berusia lanjut dan memiliki banyak anak.” Maka rasulullah pun barsabda: “Adapun yang kau katakana tentang kecemburuan, maka Allah akan menghilangkannya darimu. Sedangkan tentang umur yang kau sebutkan, maka aku pun mengalami hal yang serupa. Dan anak-anak yang kau sebutkan, maka anakmu adalah anakku.” Maka RAsulullah pun menikahinya. Lalu Ummu Salamah berkata : “Allah menggantikan Abu Salamah untukku dengan yang lebih baik darinya, yaitu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Makna kalimat istirja.
Ruu’ Abu Nuaim dalam  kitab Hilyatul Auliyaa meriwayatkan dari hasan ibn abd ‘aabid yang mengisahkan bahwa Fudhail  bin Iyadh berkata kepada seorang pria, “berapa umurmu?”
Pria itu berkata,“60 tahun.” Fudhail pun berkata, ” sesungguhnya sejak 60 tahun kau sedang berjalan menuju Tuhanmu (menjuju kematian meninggalkan dunia) dan sebentar lagi akan sampai. Pria itu lalu berkata, “ yaa Aba Ali (kunyah Fudhail bin iyadh) , innaa lillahi wa innaa ilaihi raajiuun.” Fudhail berkata , “apa yang kamu katakan? Ia menjawab,  “aku mengatakan innaa lillahi wa innaa ialaihi raajiun.” Fudhail berkata, “Tahukah kamu apa yang kamu katakan? Tahukah kamu tafsirnya? Ia menjawab, “Tidak.  Tafsirkanlah padaku wahai Aba ‘Ali!.”
Fudhail lalu menjelaskan, “perkataanmu ‘innaa lillah” maksudnya adalah aku adalah hamba Allah. Dan perkataanmu “wa Innaa ilaihi raajiun” berarti engkau akan kembali kepada Allah. Maka barangsiapa yang mengetahui bahwa dia adalah ciptaan Allah, milik Allah dan akan kembali pada-Nya, maka dia mesti tahu bahwa dia akan berdiri di hadapan Allah, dan barangsiapa yang tahu bahwa dia akan berdiri di hadapan Allah dan akan ditanya tentang apa yang dilakukannya di dunia, maka hendaklah ia mempersiapkan jawabannya di hadapan Allah.”
Maka orang itu pun terkejut dan sadar bahwa selama ini ia salah. Ia belum mempersiapkan jawaban yang akan diberikan kepada Allah subhanahhu wa ta’ala. Maka ia berkata, “jadi bagaiman jalan keluarnya?”
Maka fudhail pun berkata, “Mudah, Perbaikilah sisa umurmu, maka akan di ampuni dosa-dosamu di masa lalu. Jika engkau melakukan keburukan pada sisa umurmu, maka Allah akan mengadzabmu akan dosa-dosamu di masa lampau dan yang akan datang.”
Lalu Fudhail pun menangis dan berdo’a, “Semoga Allah menjadikan kita dalam golongan orang-orang yang memperbaiki sisa umurnya.”
Diantara hikmah yang dapat kita ambil dari hikmah kisah di atas adalah banyak orang yang sering mengucapkan kalimat istirja’ tapi tidak tahu maknanya.
Kalimat ini mengandung dua hal yang agung dan dapat menjadi obat yang sangat ampuh. Bila seorang hamba mampu memahami makna kalimat ini, maka akan tenang hatinya dan menjadi penghibur yang terbaik untuknya serta akan mendapatkan pahala yang besar. Kedua hal tersebut adalah:
1. Ketika mengucapkan kalimat istirja’, seorang hamba  mengakui bahwa dirinya, anaknya, hartanya dan semua yang ia miliki adalah milik Allah, dan Allah berhak melakukan apa saja yan Ia inginkan kepada mereka. Karena Allah lah yang menciptakan dan berhak melakukan apa saja kepada mereka. Tidak ada yang bisa merubah atau menolak keputusan Allah. Hal ini terkandung dalam kalimat ‘innaa lillahi = kami ini sesungguhnya milik Allah’. Allah ta’ala berfirman,
Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (lauhil mahfudz) sebelum kami menciptakannya. Sesungguuhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” QS. Al Hadid : 22
Seorang hamba yang menyakini hal ini akan menerima taqdir Allah dan tidak mendustakannya. Ibnu Abbas Radhiya Allahu anhuma  pernah berkata “Iman kepada Takdir Allah merupakan Nidzom (Aturan) tauhid, Barangsiapa yang mengimani Allah akan tetapi mendustakan takdir Nya maka pendustaannya tersebut mendustakan tauhidnya” . Diantara hal yang bisa menjelaskan hal ini adalah perkataan Imam Ahmad bin Hanbal bahwa, “Takdir adalah kekuasaan Allah Ta’ala, karena Allah Ta’ala Maha Kuasa atas segala sesuatu maka seseorang yang mendustakan takdir berarti dia telah mendustakan kekuasaan Allah Ta’ala”.
Imam Hasan Al Bashri menyatakan “barangsiapa yang mendustakan takdir Allah Ta’ala maka dia telah mendustakan Islam”
2. seorang hamba harus tahu bahwa kepada Allah lah mereka kembali. Sebagaimana firman Allah,
Sesungguhnya hanya kepada tuhanmulah kamu kembali.” QS Al ‘Alaq : 8
Dan firmannya pula, “Dan bahwasannya kepada Tuhanmulah kesudahan segala sesuatu”  QS An Najm : 42
Setiap hamba apasti akan meninggalkan dunia dan menuju Allah subhanahu wa ta’ala. Tidak ada yang kita bawa kecuali kebaikan dan keburukan. Inilah yang tersirat dalam ayat ‘dan kepadanyalah kami  sungguh akan kembali” maka hendaklah ia melakukan yang terbaik bagi dirinya untuk dipertanggung jawabkan di akhirat nanti.
Janji bagi orang yang beristirja dan memuji Allah
Rasulullah shhall;allahu a’alihi wa sallam bersabda, “Bila anak dari salah seorang hamba Allah meninggal, Allah bertanya kepada malaikat, ‘Apakah kalian mencabut nyawa anak hambaku?’. Malaikat pun menjawab, ‘iya, ya Allah’. Allah bertanya lagi, ‘apakah kalian mencabut ruh buah hatinya?’. Malaikat menjawab, ‘Ia, ya Allah.’ ‘Lalu apa yang diucapkan oleh hambaku itu?’ tanya Allah kembali. Malaikat menjawab, ‘ia mengucapkan alhamdulillah lalu beristirja’ (mengucapkan innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun)’. Maka Allah berkata, ‘bangunkan baginya rumah di surga dan beri nama baitul hamd.” HR At Tirmidzi



Senin, 22 November 2010

Hutangmu Anakku

Add caption
Abdullah anakku...
Di sisi pena dan lembaran...
Di atas kursi yang jauh darimu...
Ayah duduk...
TApi cerdas dan ceriamu...
Menari meramu rindu ayah...

Abdullah...
secarik mimpi mengukir harapan ayah
Engkau berdiri melawan arus dunia...
Memangku seribu mimpi ayah ibumu ...
Menghapus sekian cemas kami...

Masa ini masih milikmu...
Tertawalah nak...
Lalu belajarlah tentang hidup...
Karena kelak kau akan temui arti berjuang...
Kau akan sendiri, berdiri sendiri...

Nak...
Andai kau tahu bahagia kami...
Saat kau tertawa pertama kali ...
Setelah tangis panjangmu...
Seakan isyarat senyummu di surga...
Setelah air matamu di dunia...

Dunia itu tangisan nak...
Akhiratlah tempat tersenyum...
Wujudkan mimpi ayah...
Seperti ayah mengukir senyum kakekmu....
Itu hutangmu anakku...

Minggu, 21 November 2010

Ridha dan Benci Allah


Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:
“Sesungguhnya Allah meridhai kalian pada tiga perkara dan membenci kalian pada tiga perkara pula.
Allah meridhai kalian bila kalian:
(1) Hanya beribadah kepada Allah semata, (2) Dan tidak mempersekutukan-Nya, (3) Serta berpegang teguh pada tali (agama) Allah seluruhnya, dan janganlah kalian berpecah belah
Dan Allah membenci kalian bila kalian:
(1) Suka qiila wa qaala (berkata tanpa dasar), (2) Banyak bertanya (yang tidak berfaedah), (3) Menyia-nyiakan harta”
(HR. Muslim no. 1715)

Rabu, 17 November 2010

yang terakhir di 17 11 10




takjub..
dua hati menabuh cinta..
tanpa saling melukai..
mencari aliran da alam yang sempit...

sudah hukum alam...
buih terbawa aliran besar..
meski saling menjawab...
meski telah bernyawa...
namun ia barulah lahir...
tak sanggup apa-apa...


17 september 2010...
benang pun berujung...
bila sebelah hati menjaga...
takkan mati sebelah lagi...

keanggunan, ketangguhan...
dan mampu melawan..
membuka mimpi...
duduk dalam seribu buku...
dikelilingi tarian anak-anak kecil

17 september 2010...
benang berujung...
kembali terbangun...
dunia dengan mata terbuka
Jangan tertipu dengan semua hal yang kelihatan baik, karena sesunguhnya syaitan sering menggunakan jalan kebaikan tuk menarik hati pada kemaksiatan. Itulah penyamaran setan..
maka bertaqwalah kepada Allah di mana pun kau berada. dan ikutkanlah keburukan denga perbuatan baik untuk mengahapuskannya

Senin, 15 November 2010

Pendaki Kesempurnaan

Tukmu yang tersenyum dalam nikmat islam.
yang hatinya gemetar takut, merengek berharap dan haus cinta yang sempurna.

Seperti kataku selalu, jadilah pendaki gunung yang handal.
langkahmu yang sungguh-sungguh akan membawamu ke puncak. tapi ingat, semakin mendekati puncak, ketinggian dan jarak yang telah kau tempuh akan menyerangmu dengan rasa lalah yang sangat.

makan (mencari ilmu) dan minumlah (meminta nasihat)agar stamina dan semangatmu mampu membuatmu bertahan.

Jadilah seperti pembuat pedang, yang tak ingin pedangnya dicela karena kesalahan yang sepele. dan membuat ujung pedang adalah bagian yang tersulit. JAngan sampai cacat.

jika kau ingin minum, air itu ada di mana-mana,,
Jangan mencari air dari satu sumur saja,,
Bila airnya jernih ambil dari situ..

Hanya kepada Allah tempatmu bersandar....

pasti aku tidak mampu

Suatu hari, aku menjadi salah satu diantara puluhan orang, bertumpuk menanti dalam sebuah antrian yang cukup melelahkan di halte busway. Tak ada busway yang lewat, kecuali penuh sesak dan hanya orang yang siap ‘bunuh diri’ yang mau masuk. Hehehehe
Menunggu lebih dari sejam, bukan jumlah waktu yang baik untuk kota sesibuk Jakarta. Jadwal yang menuntut dan pekerjaan yang bertumpuk. Namun, pemandangan itu bagi kota besar ini, bukanlah hal yang asing. Kemacetan lalu lintas, polusi udara yang melewati batas wajar, dan ribuan kisah pilu yang lain.
Sambil tetap berdiri menunggu busway yang mampu menampung tubuh dan egoku, kucoba memuji Allah. Alhamdulillah, hati ini pun masih sabar. Tapi ada satu hal yang sepertinya tak terobati oleh sabar. Saluran pernafasanku sepertinya terlalu agresif meberikan ucapan selamat datang kepada tamu-tamunya. Sudah barang tentu, udara kotor bukanlah tamu yang baik tuk sejumlah organ di dalam tubuhku. Rasa mual pun mulai aktif menggerayangi perut dan tenggorokanku. Bila tetap bertahan, aku khawatir akan membuat sensasi yang tak terlupakan seumur hidup. Muntah di hadapan orang banyak. Hmmmm, sensasi yang memalukan tentunya. Tanpa pikir panjang, kugeser kaki kananku ke belakang mendapatkan ruang yang memungkinkan tuk mundur. Seseorang nyeletuk kasar, sepertinya tak terima dengan tindakan itu. Tapi protes itu menyadarkan aku, bahwa di balakang ternyata lebih banyak orang yang tidak lebih beruntung.
Kucoba melayangkan fikiranku ke kiri dan ke kanan. Mendapatkan hal-hal yang pantas tuk mengalihkan perhatianku, agar tidak diserang rasa bosan dan semoga mampu menghilangkan rasa mual yang nampaknya masih memberi toleransi. Hmmmh... polusi udara telah malapaui batas wajar; kemacetan yang tak tertangani; aturan yang semakin banyak, semakin menambah jumlah pelanggaran; masalah moral, seperti hilagnya rasa malu; wanita-wanita tak lagi risih mempertontonkan aurat; tanpa rasa beban bercampur baur pria-wanita; itu semua masalah kecil untuk ukuran suatu bangsa. Bagaimana dengan pejabat-pejabat bejat, aparat yang suka senyum karena duit, mafia peradilan, dan mentahnya aturan-aturan hukum baik agama maupun negara oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab serta terlalu banyak masalah yang tak terselesaikan.
Ohhh.. sayang, kalau aku jadi mahasiswa, mungkin aku suka teriak-teriak. kalau aku polisi, dengan senang hati membendung aksi protes. Kalau jadi pejabat....., mungkin aku jadi koruptor. Jadi masyarakat biasa? Yah diobok-obok tontonan, jadi penonton terbaik. Untungnya aku jadi diriku sendiri. Kalau mau jujur, andai aku jadi peresiden, pasti aku tidak mampu.
Wah... parah nih, waktu dah lewat banyak. Sebuah busway singgah. Penuh lagi, yah ga apa-apalah. bismillahirrahmanirrahiiim

Dan untuk para pemimpin bangsa, semoga mereka diberikan taufiq dan hidayah dari Allah untuk mampu menjalankan tugas mereka dengan baik, serta mau berubah dan berusha untuk memenuhi hak-hak rakyatnya dengan baik. Meskipun tak mampu sempurna, karena mereka juga makhluk. salam serta shalawat kepada Nabiullah muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam beserta para keluarga dan sahabatnya.

Menuju surga dengan Hati

Pohon jati dililit benalu
Tumbuh di atas air keruh
Duhai hati tak tahu malu
Tuk surga kau terlalu rapuh

Al Qur'an kita

Selama bertahun-tahun kita hidup. Bertahun pula mengaku muslim.
Berapa banyak yang kita baca dari Al Qur’an?
Dari yang kita baca, berapa banyak yang kita fahami?
Semua yang kita fahami, barapa banyak yang kita amalkan?
Dari yang kita amalkan, berapa banyak yang ikhlas mengharapkan wajah Allah?

antara ia dan ia

Isteri yang solehah, tinggal di rumah melaksenekan kewajibannya sebagai penanggung jawab di dalm rumah suaminya. Ia lebih mulia dari mereka yang keluar rumah dan meninggalkan kewajibannya sebagai isteri.
Kehinaan bagi wanita-wanita yang keluar rumah dan menanggalkan kehormatannya sebagai seorang muslimah. Padahal mereka seharusnya telah mendapatkan kemuliaan yang diberikan Islam kepada . Maka laknat Allah atas mereka dan laknat seluruh makhluk. Semoga Allah mengihindarkan kita dan keluarga dari yang seperti itu.
Sungguh syariat ini bukanlah hal yang sulit bagi mereka. Namun, merekalah yang terlalu lemah hingga terkalahkan oleh hawa nafsunya.

Jumat, 12 November 2010

Gemerlap bintang menghiasi langit yang tinggi sejak dahulu.
Dan taman ini bertabur bunga. Indah harusnya. Tapi tabiatnya menghadap ke atas. Andai ia mampu bersyukur dengan pesonanya, tak perlu ia berlaku bodoh mengadu kerendahannya dengan ketinggian sang langit. Sebab, mungkin saja langit iri melihat bebunganya dipetik manusia.

Pemuda dan ilmu

Kebahadiaan para pemuda adalah berteman dengan ulama. Ilmu adalah lautan tak bertepi.
Aku menyelam kedalamnya, namun ketakitanku hadir kembali saat harus muncul kepermukaan dan kembali menyaksikan dunia.

muhasabah

Begitu banyak makhluk bernyawa, menyaksikan terbenamnya matahari. Namun, ajalnya tiba sebelum Fajar terbuit keesokan harinya. Maka, bersiaplah untuk berpisah dengan dunia dan semua yang kau benci serta kau cintai.
Terlalu ngeri untuk melihat kenyataan setelah kematian, yang tak lain hanyal balasan tuk semuaperbuatan yang kita lakukan selama hidup.
Hemnadaknya segera perbanyak istigfar. Memohon ampun kepada Allah yang tahu segalanya tentang kita, burukkah ia atau baik. Ialah yang akan mengadili dan tidak ara yang mampu lebih adil dariNya

Kasih terputus


Selamat tinggal
Semoga di lain waktu
Ada kasih yang kita padu
Meramu semua rasa
Dengan waena seribu bahasa
Bak mawar merekah
Indah nampak semua orang
Baunya penuhi ruang
Selama masih ada cinta

Rabu, 10 November 2010

Mengapa saya tidak boleh ikut-ikutan???

Kehidupan bermasyarakat pada zaman modern ini, memang merupakan tantangan yang berat. Apalagi, jika harus mempertahankan kemurnian agama dan menghidupkan ajaran Islam yang benar. Dengan alasan perkembangan zaman, terlihat sebagian besar kaum muslimin terjebak dalam gemerlap yang menyilaukan mata dan mengalahkan iman mereka. Suasana pun menjadi terbalik, apa yang seharusnya dibenarkan menjadi salah dan apa yang seharusnya hina, seringkali dianggap benar. Meskipun, mereka harus memaksakan apa yang sebenarnya bertentangan dengan fitrah mereka.

Kesalahan yang membudaya ini, tanpa disadari telah menyeret sebagian kaum muslimin kepada rusaknya agama dan keyakinan mereka. Gaya hidup yang seharusnya tidak dimiliki seorang muslim menjadi hal yang lumrah. Misalnya saja pemuda muslim yang ikut merayakan natalan dengan teman-teman non muslimya, perayaan tahun baru, valentine day, perayaan ulang tahun, dan lain sebagainya. Mungkin bagi mereka yang berkantong tebal atau anak dari seorang konglomerat, hal ini tidak terlalu sulit. Tapi mereka yang hidup pas-pasan, harus berpikir untuk merogoh kocek. Namunpun demikian, peristiwa-peristiwa tersebut adalah sesuatu yang sakral, rugi untuk dilewatkan tanpa kesan, sesibuk apapun mereka. Keadaan seperti ini pun, tidak sedikit menimbulkan berbagai tindak kriminal. Lalu, berapa banyak kaum muslimin yang menyempatkan beberapa saat untuk menjawab panggilan muadzdzin ketika waktu shalat tiba???

Sadarkah kita selama ini, bahwa dengan ikut memeriahkan dan melaksanakan natalan, perayaan tahun baru, valentine day, perayaan ulang tahun, dan sebagainya telah melukai keislaman kita? Bahkan mengucapkan selamat kepada mereka, berarti memberi selamat atas sujudnya mereka kepada tuhan selain Allah serta melaksanakan kebatilan dan kemaksiatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bila di telusuri, momen-momen tersebut memang berasal dari kaum kafir dan merupakan syiar agama mereka. Sementara telah diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wa Sallam:

Dari anas ia berkata Rasulullah shallallahu alaihi wa Sallam bersabda: “Rezekiku telah dijadikan berada di bawah bayangan panahku dan dijadikan kehinaan dan kekerdilan atas orang yang menyelisihi aku, dan barangsiapa yang meniru-niru suatu kaum, maka ia termasuk dalam golongan kaum itu” (HR Abu Naim dan adz dzahabi)

Hadits tersebut merupakan ancaman dan larangan untuk meniru-niru kaum kafir dalam perayaan dan syiar mereka , meskipun dimaksudkan untuk kebaikan. Sufyan Ats Tsaury berkata : “Para ahli fiqh berkata: tidak benar suatu perkataan kecuali dengan mengamalkannya, dan tidak benar perkataan dan perbuatan kecuali dengan niat, dan tidak benar per perkataan, perbuatan dan niat kecuali dengan niat yang sesuai dengan sunnah.

Sebagian kaum muslimin menganggap bahwa ikut meramaikan atau sekedar bergembira dan mengucapkan selamat kepada orang-orang kafir pada saat perayaan hari-hari besar mereka adalah hal yang sepele dan tidak berpengaruh sama sekali dalam kehidupan beragamanya sendiri. Tentu ini adalah anggapan yang salah dan tdak dapat diterima sebagai orang yang menjaga kehormatan agama dan dirinya. Para Ulama telah membahas hal-hal semacam ini, di antranya uraian yang dipaparkan oleh syaikhul islam ibnu Taimiyah dalam kitabnya Iqtidho’ Ash Shiraatil Mustaqiim lii mukhaalafati ashaabal jahiim, jilid pertama, tentang bahaya kaum muslimin yang ikut andil dalam perayaan kaum kafir:

1) Setiap perayaan atau hari besar merupakan syiar dan manhaj yang dijadikan oleh Allah bagi setiap ummat yang padanya ada syariat dan manhaj. Allah azza wa jalla berfirman : “Bagi setiap umat telah kami tetapkan syariat tertentu yang mereka amalkan. Maka tidak sepantasnya engkau berbantahan dalam urusan (syariat) ini. Serulah kepada Tuhan-mu. Sungguh, engkau (Muhammad) berada pada jalan yang lurus.” (QS. Al Hajj : 67)

Kaum muslimin memiliki hari raya tersendiri yaitu ‘idul adha dan ‘idul fitri. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “wahai Abu Bakr! Sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya, dan sesungguhnya hari ini adalah hari raya kita” (HR Bukhari & Muslim)

2) Setiap yang mereka lakukan pada perayaan mereka adalah maksiat, karena bila itu bukan bid’ah yang diada-adakan, ataukah perayaan yang telah dihapuskan oleh Allah. Seperti 2 hari raya jahiliah yang di temukan oleh rasulullah di Madinah, Rasulullah berkata: “dua hari apa ini?” mereka berkata : “dahulu kami bermain pada dua hari inidi masa jahiliyah”. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menggantikan dua hari raya itu dengan dua hari raya yang lebih baik untuk kalian: Hari idul Adha dan Hari idul fitri.” (HR Abu Daud ) dan penggantian sesuatu mengharuskan ditinggalkannya apa yang telah di ganti;

3) Seorang muslim yang ikut andil dalam sedikit atau beberapa hal kecil dalam perayaan mereka , maka akan membawanya kepada yang lebih besar dan banyak. Kemudian apabila perayaan itu telah tersebar luas, mulailah orang-orang awam ikut mengerjakan, lalu asal muasal kegiatan tersebut mulai dilupakan, hingga menjadi perayaan yang membudaya.

4) Perkara ini telah menyebabkan kaum muslumin tidak tahu bahwa mereka telah mengikuti kaum nasrani dan selainnya dalam perayaan hari besar mereka dan beberapa hal seperti bid’ah dan kemungkaran-kemungkaran yang lain. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : “Tidaklah suatu kaum melakukan satu perkara bid’ah, kecuali Allah mencabut dari mereka dari sunnah yang semisalnya.” (HR Al Imam Ahmad)

5) Meniru-niru kaum kuffar dalam perayaan mereka, menyebabkan kegembiraan mereka di atas kebatilan. Mereka lalu menganggap kaum muslimin telah menjadi bagian dari syiar agama mereka. Ketakutan mereka terhadap kaum muslimin pun hilang dan menguatkan hati mereka atas kaum muslimin.

6) Diantara yang dilakukan di dalam perayaan mereka adalah kekufuran , keharaman atau hal yang mubah dan tidak nampak perbedaannya. Maka jatuhnya seseorang kedalam sesuatu yang tidak jelas keharamannya, menyebabkan ia jatuh kedalam keharaman yang nyata. Seperti itulah kenyataannya.

7) Perbuatan mencontek atau meniru-niru yang dilakukan oleh kaum muslimin terhadap kaum kafir merupakan dukungan terhadap mereka. Tentunya, hal itu sangat berbahaya bagi agamanya,

8) Tasyabbuh (meniru-niru) akan mewariskan rasa cinta dan kasih saying diantara orang yang meniru dan ditiru

Saat Terorisme jadi Buah Bibir

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “katakanlah (Muahammad), “Tuhanku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang terlihat ataupun yang tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan zalim tanpa alasan yang benar, dan mengharamkan kamu menyekutukan Allah dengan sesuatu, sedangkan Dia tidak menurunkan alasan untuk itu. Serta mengharamkan kamu membicarakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al A’raf : 33)

Akhir-akhir ini, jutaan pasang bibir d ibangsa terjebak dalam perbincangan hal-hal yang semakin hari semakin aneh, mulai dari video mesum pasangan artis, maraknya pemain-pemain film porno asing yang ditarik oleh produser-produser film Indonesia untuk meramaikan kancah sandiwara kaca di tanah air, kasus tuduhan pelecehan seksual terhadap seorang tokoh agama, kerusuhan di berbagai penjuru tanah air yang disebabkan hal-hal sepele dan lain sebagainya.

Lalu bagaimana pula halnya, bila yang menjadi sorotan adalah sekelompok orang yang sering menarik perhatian khalayak dengan melakukan aksi-aksi teror bak aksi yang biasa disuguhkan dalam film-film laga, mengganggu stabilitas keamanan, mengancam jiwa, keselamatan harta, darah, akal dan kehormatan, lantas mengklaim diri membangun pola pikir di atas agama Islam. Bahkan yang paling berbahaya adalah perbuatan mereka telah mencoreng kehormatan Islam dengan menisbatkan diri kepadanya. Telah berjatuhan korban dari mereka yang tidak bersalah dan orang-orang yang dijamin darahnya oleh Islam.

Para ulama dan cendekiawan muslim di berbagai belahan dunia tak tinggal diam dan mengecam tindak pengrusakan bumi dan pencorengan terhadap agama ini. Mereka duduk bersama dan meneliti serta menelaah persoalan ini, hingga sampailah mereka pada kesepakatan haramnya perbuatan ini, serta menyuarakan penolakan dan memberikan peringatan keras terhadap pelaku-pelakunya. Seperti yang dilakukan persatuan ulama-ulama besar Saudi Arabia. Mereka melihat ini sebagai dosa besar yang tidak mungkin dilakukan oleh orang-orang yang berdiri tegak di atas pemahaman yang benar terhadap Al Qur’an dan Sunnah , serta mereka yang berpegang teguh pada tali Allah yang kuat.

Islam sebagai agama penuh kasih sayang, mengharuskan setiap pemeluknya untuk melindungi dan menjadi sebab tetap utuhnya 5 hal yang sangat urgen dalam kehidupan manusia, yaitu agama, jiwa, darah, akal, kehormatan dan harta benda. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam pada hari arafah ketika haji wada’ berkhutbah di hadapan para sahabatnya, “Sesungguhnya darah kalian, harta kalian dan kehormatan kalian haram atas kalian, sebagaimana haramnya hari (arafah) kalian ini, pada bulan (dzulhijjah) kalian ini, di negeri (makkah) kalian ini. Bukankah telah aku sampaikan? Yaa Allah, saksikanlah.” (muttafaqun alaihi). Dalam sabdanya yang lain, “Setiap muslim atas muslim yang lainnya haram darahnya, harta dan kehormatannya.” (HR Muslim). Bahkan orang kafir yang mengikat perjanjian dengan kaum muslimin pun haram ditumpahkan darahnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang membunuh orang yang mengikat perjanjian dengan kaum muslimin, ia tidak akan mencium bau syurga. Sesungguhnya baunya dapat tercium dari jarak perjalanan empat puluh tahun” (HR. Ahmad, Bukhari, an Nasai dan ibnu majah)

Pembuat syariat yang Maha Mulia telah menjelaskan betapa pentingnya penjagaan terhadap lima hal tersebut dan juga telah menjelaskan bahaya dan ancaman hukuman bagi mereka yang melanggarnya. Allah ta’ala berfirman :

Oleh karena itu Kami tetapkan suatu hukum bagi Bani Israil, bahwa barang siapa yang membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain atau bukan karena mambuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah ia telah memelihara kehidupan seluruh manusia. Sesungguhnya Rasul kami telah datang kepada mereka dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas. Tetapi kemudian banyak di antara mereka setelah itu melampaui batas di muka bumi.” (QS. Al Maaidah : 32)

Tidaklah layak bagi seorang muslim memandang hal ini sebagai persoalan sepele. Allah telah menyiapkan bagi mereka balasan dan kehinaan yang setimpal di dunia dan di akhirat, dan Allah adalah seadil-adilnya pembuat keputusan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Hukuman bagi orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka secara menyilang, atau diasingkan dari tempat kediamannya. Yang demikian itu kehinaan bagi mereka di dunia dan di akhirat mereka mendapatkan adzab yang besar.” (QS. Al Maidah : 33)

Memang tak dapat disangkal, bahwa tidaklah mudah bagi mereka menjual agama ini sebagai barang dagangan yang laris untuk menjadi kedok. Sehingga, mereka harus mempersiapkan diri dengan hujjah dan argumentasi serta segala hal yang dapat menjadi penyokong yang kuat. Tak jarang kita dapati tokoh-tokoh mereka mengisi majelis-majelis taklim, forum-forum kajian, forum debat terbuka dan lainnya. Bahkan, sebahagian mereka mampu melontarkan pernyataan-peryataan yang bagaikan sihir dan melahirkan rasa takjub. Seketika itu, mereka mampu menanamkan faham-faham radikal dan sembrono yang menyalahi faham para ulama ahlussunnah.

Allah ta’ala menggambarkan keadaan mereka dalam firman-Nya:

Dan di antara manusia, ada yang pembicaraaan mereka tentang kehidupan dunia mengagumkan engkau dan dia bersaksi pada Allah tentang isi hatinya, Padahal dia adalah penentang yang palling keras. Dan apabila dia berpaling (dari engkau), dia berusaha membuat kerusakan di muka bumi, serta merusak taman-tanaman dan ternak, sedang Allah tidan menyukai kerusakan.” (QS. Al Baqarah : 204 -205)

Dan firman Allah ta’ala yang lainnya:

dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi setelah (diciptakan) dengan baik.” (QS. Al A’raf : 56)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Allah subhanahu wa Ta’ala melarang segala bentuk pengrusakan dan segala yang membahayakan di atas permukaan bumi setelah diadakannya perbaikan. Karena sesungguhnya bila keadaan telah berlangsung baik, lalu terjadi pengrusakan setelah itu, maka tentu itu lebih besar mudharatnya bagi seorang hamba.”

Demikian pula Imam al Qurthubi rahimahullah ketika mejelaskan ayat ini dalam tafsirnya mengatakan, “Allah subhanahu wa ta’ala melarang segala bentuk pengrusakan sedikit atau pun banyak, setelah diadakannya perbaikan sedikit atau pun banyak.”

Sesungguhnya Rasul yang mulia telah memperingatkan umatnya agar tidak berlebih-lebihan dan melampaui batas. Sesungguhnya sifat berlebih-lebihan merupakan sebab kehancuran, penghalang manusia dari cahaya Islam, manyimpangkan mereka dari manhaj yang lurus dan adil, penuh rahmat, mudah dan penuh kelembutan. Sikap berlebih-lebihan adalah kedzaliman terhadap diri sendiri dan orang lain, yang akan menjerumuskan pelakunya ke dalam kegelapan yang nyata di akhirat kelak, katika cahaya memancar di hadapan dan di samping kanan orang-orang yang beriman.

Sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Janganlah kalian berbuat kedzaliman (di muka bumi), karena kedzaliman itu merupakan kegelapan pada hari kiamat kelak.” (HR. Muslim)

Sabda beliau pula, “Janganlah sekali-kali kalian bersikap berlebih-lebihan, karena sesungguhnya yang menghancurkan umat-umat sebelum kalian adalah berlebih-lebihan.” (HR. Imam Ahmad)

Apapun alasan yang mereka gunakan, hingga merasa berhak menumpahkan darah manusia dengan cara yang batil, menyebarkan ancaman dan kerusakan di muka bumi, tetap tidak dapat dibenarkan oleh syariat, fitrah manusia dan akal yang sehat. Sekarang, yang wajib dilakukan oleh kaum muslimin di manapun mereka berada adalah saling berwasiat dalam kebenaran, nasihat menasihati dan tolong menolong dalam ketaatan dan ketaqwaaan pada Allah ‘Azza wa Jalla, menyeru kepada kebajikan dan mencegah kemungkaran dengan cara yang bijaksana, memberikan contoh yang baik dan berdiskusi dengan cara yang benar di atas manhaj yang haq. Allah Ta’ala berfirman: “Dan Tolong menolonglah kamu dalam kebajikan dan taqwa, dan janganlah saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan. Bertaqwalah kepada Allah. Sungguh Allah sangat pedih siksaan-Nya.” (QS. Al Maidah : 2)

Kita memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan nama-nama-Nya yang baik dan sifat-sifat-Nya yang tinggi untuk menjauhkan bahaya dari kaum muslimin, serta memberikan taufik kepada segenap pemimpin kaum muslimin kearah kebaikan masyarakat muslim dan negeri-negeri mereka, serta menghapuskan kerusakan dan pelaku-pelaku pengrusakan tersebut. Semoga Allah menolong agama-Nya melalui mereka, meninggikan kalimat-Nya dan memperbaiki keadaan kaum muslimin. Hanya Allahlah yang mampu melakukannya. Salam dan shalawat kepada tauladan kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya.


Sedecak kagum, tuk kakak tersayang

Duhai dunia...
ku punya kisah lagi...
tentang seorang wanita...
Tangguhnya melebihi seribu lelaki...
ia wanita...
tinggalkan tawa dan gelaknya..
dalam gelapnya dunianya lalu...
nikmat terhidang luas...

ia kini bersimpuh...
merengek pada Rabb nya...
memohon segala ampun...
jatuh tersujud di hadapan-Nya...
Maha pengampun Maha pengasih...

Tuhanku...
untuk satu sujudku...
ampuni aku dan ia...

jak, 11 nov 2010
sedecak kagum tuk k ik yang tangguh...

Rabu, 03 November 2010

Kekasihku bersabar

Kekasihku sayang , berperang dengan sakitnya. Tanpa ada aku di sampingnya. Sebaris pesan hinggap di tanganku. Ia mengeluh. Soroako – Jakarta bukan hitungan langkah yang sedikit. Rasa pun menyrang hati ini, warisan yang lahir dari berita itu. Sama sakitnya, sama sedihnya. Entah, seberapa besar ketabahannya.
Dad ini meradang, tersadar betapa waktu yang kutempuh tuk mengajarinya bersabar, sungguhlah jauh dari bilangan cukup. Saat ini yang aku tahu, yang ia korbankan untukku terlalu banyak. Sebagai seorang lelaki pun, aku tak mampu membayarnya.
Dalam masa-masa yang tiada bagiku izin bersamanya, aku hanya bisa tahu... betapa aku mencintainya...

kekasihku, Susah senang, tawa dan tangis, selamat juga bencana, memiliki atau tidak memiliki, kesemuanya hanya mengingatkan kita , betapa Allah Maha Kuasa untuk melakukan apa saja terhadap makhluknya.

HAnyalah Allah yang tahu apa yang telah ditakdirkan-Nya tuk kita setelah detik ini. Kita sama sekali tidak punya ilmu tentang itu.

Pesanku untukmu yang tersayang, "bersabarlah. Bila pun sesuatu terjadi di antara kita, sementara waktu dan jarak masih memisahkan dua tubuh ini, tetaplah bersabar. Ketahuilah, aku begitu mencintaimu dan aku telah ridha kepadamu."

Semoga Allah menyaksikannya dan mempertemukan kita kembali dalam ridhanya, bila tidak di dunia, di akhirat kelak.

Maafkan aku yang tak dapat memenuhi hakmu. Dengan air mata cinta untukmu, kutuliskan kalimat ini....

Al Qur'an dan pejuangnya

Ungkapannya adalah mentari penyingkap kegelapan. Akhlaqnya adalah air bagi jiwa yang gersang. Senyum sapanya, obat bagi hati-hati yang sakit nan layu. Jejak emasnya menghamparkan hijau sejuk sepanjang sahara.

Sang pendidik ulung yang prestasinya tak dapat diukir siapapun juga. Sang pencerah yang bimbinganny cerah segar sepanjang zaman. SAng pejuang tangguh, penyandang kemualiaa tak tertandingi manusia manapun. Tauladan terbaik sepanjang sejarah kemanusiaan. Ia layak bersinggasana pada tahta tertinggi kerajaan cinta, setelahTuhannya.

IAlah muhammad bin Abdillah, shalawatullahi alaihi wa sallam.

siapapun yang menginginkan kegemilangan hidup pasti bertanya, apa gerangan kunci sukses sosok agung itu?

Bukan dongeng kosong yang mengubah hidupnya, bukan pula novel-novel dusta yang menggerakan hatinya. Jawabannya adalah kitab mulia yang diturunkan dari lauhil mahfudz di langit ke tujuh. Tiada keraguan di dalamnya dan tidak mengandung cacat sedikit pun. Al Qur'an al karim.

Hidupnya shallallahu 'alaihi wa sallam adalah tafsiran Al Qur'an. Akhlaqnya, cerminan dan warna Al Qur'an. Keberhasilannya merupakan terjemahan Al Qur'an. Ummul mukminin, Aisyah radhiallahu anha berkata, "Akhlaqnya Rasulullah adalah al Qur'an."

Al Qur'an adalah cahaya yang ia sebarkan menerangi dunia, hingga malamnya seperti siang, tak ada yang menyelisihinya kecuali kan mendapatkan kecelakaan. Ajaran al Qur'an mengubah sarung-sarung permusuhan dan kebencian menjadi selimut-selimut perdamaian dan kasih sayang. Merakit selimut-selimut kedzliman menjadi permadani keadilan.

Al Qur'an memancarkan cahaya kehidupan, melepaskan belenggu-belenggu yang memasung kemuliaan hidup, petunjuk dari Yang Maha pemberi hidayah, obat paling mujarab yang pernah ada. Lalu, apa yang menghalangi cahaya ini menyentuh kita. Masihkah kita engga mengulurkan tangan menyambutnya?

Berapa ayat yang telah anda baca hari ini??????