Allah subhanahu wa ta'ala berfirman : "Allah yang tiada sesembahan yang hak selain Ia. IA mempunyai nama-nama yang baik." (QS Thaha)
Sesungguhnya Allah Ta'ala yang telah menciptakan kita, dengan nikmat yang diberikannyalah kita hidup, dari rezeki-Nya pula kita menikmati umur, Dialah sesembahan yang berhak disembah, untuk beribadah kepada-Nya kita diciptakan, dan untuk ketaatan kepada-Nya kita ada. Oleh karena itu, seorang muslim harus beradab kepada-Nya dengan sebaik-baik adab yang tidak diberikan adab itu kecuali untuk-Nya.
1. Setiap muslim melihat semua kenikmatan yang dirasakannya, semua itu dari Allah sebagaiman Firman Allah yang artinya: "Nikmat apapun yang kamu rasakan, itu dari Allah." (QS An NAhl)
Mak orang yang diberikan nikmat oleh Allah hendaknya bersyukur dengn hatinya, memuji dengan lidahnya, dan mengakui keutamaannya, lalu menggunakan kenikmatan ini dalam kataatan kepada Allah. Allah subhanahu wa ta'aa berfirman : "Dan bersyukurlah kepadaku dan janganlah kalian kufur..." (QS. Al BAqarah)
Rasulullah pun telah mengajarkan kepada kita untuk senantiasa mengucapkan : "Aku mengakui kenikmatan yang Engkau berikan kepadaku (yaa Allah)." (HR. Bukhari)
2. Seorang muslim yang bertaqwa, akan selalu merasa diawasi oleh Allah Tabaaroka wa Ta'ala pada setiap detik=detik kehidupannya. Ia tahu, bahwasannya Allah Maha Mengetahui akan seluruh rahasianya, Allah maha menyaksikan segala aktifitas hidupnya. Maka, ia malu untuk bermaksiat sedang Allah melihatnya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Allah senantiasa mengawasi kalian." (QS. An Nisa)
3. Seorang muslim, juga akan senantiasa emnyadari Kemampuan dan Qudrat Allah atas segala sesuatu. Dengan demikian, mereka Tawakkal kepada-NYa. Allah berfirman : "Dan Kepada Allah lah orang-orang beriman berserah diri."
4. Seorang muslim juga menyaksikan lusnya Rahmat Allah dan kelembutan-Nya kepada makhluk-Nya, sebagaimana mereka tahu akan pedihnya adzab dan siksaan serta balasan-Nya. Maka ia akan tenang dengan rahmat Allah dann takut akan adzab-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam Firman-Nya: "Dan Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu." (QS Al A'raf)
dan Ia juga berfirma: "Sesungguhnya adzab Tuhan-mu amatlah pedih." (QS. Al Buruj)
5. dan yang terpenting dari semua itu adalah, seorang muslim mengetahui dan mengimani bahwa Allah maha esa, tempayt bergantung segala sesuatu, tidak beranak dan tidak pul diperanakkan, tidak ada yang sama dengan-Nya, maka hanya kepada-Nyala ia beribadah, berdo'a dan menyandarkan segala sesuatunya.
Dengan beradab kepada Allah subhanahu wa ta'ala, akan meninggikan derajat seorang muslim, menguatkan imannya, dan trmasuk di antara orang-orang yang mulia. Allah ta'ala berfirman : "Sesungguhnya yang peling mulia di antara kalian di sisi Allah, adalah yang paling bertaqwa." (QS. Al Hujurat)
Senin, 08 Juni 2009
Kamis, 04 Juni 2009
PEMIMPIN
Seperti apakah semestinya pemimpin yang didambakan kaum muslimin? adakah sosok yang seperti itu sekarang ini? sebelum kita memperluas permbicaraan, ada baiknya kita simak hal-hal berikut ini:
- Ramalan Rasulullah tentang pemimpin : "Kalian akan berebut untuk mendapatkan kekuasaan. Padahal kekuasaan itu adalah penyesalan di hari Kiamat, nikmat di awal dan pahit di ujung. (Riwayat Imam Bukhori).
Dari Ma’qil bin Yasaar radiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Tiada seorang hamba ditunjuk oleh Allah azza wajalla memimpin rakyat, kemudian ia meninggal sedang ia melakukan penipuan terhadap yang dipimpinnya, keculai Allah SWT mengharamkan baginya (masuk) syurga.” HR Bukhari dan Muslim
- Peringatan kepada para pemimpin : "Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawabannya. Imam (kepala negara) adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawabannya atas kepemimpinannya...".
“Siapa yang diberikan Allah kekuasaan mengurus urusan kaum Muslimin, kemudian ia tidak melayani mereka dan keperluan mereka, maka Allah tidak akan memenuhi kebutuhannya.” (Riwayat Abu Daud).
Dan dalam riwayat at-Tirmizi disebutkan : “Tidak ada seorang pemimpin yang menutup pintunya dari orang-orang yang memerlukannya dan orang fakir miskin, melainkan Allah juga akan menutup pintu langit dari kebutuhannya dan kemiskinannya.
Adakah yang mau jadi pemimpin setelah mereka tahu akan itu semua??
Perhatikan bagaimana para sahabat dalam hal kepemimpinan:
Abu Bakar Shiddiq diriwayatkan, sebelum diminta menjadi Khalifah menggantikan Rasulullah mengusulkan agar Umar yang menjadi Khalifah. Alasan beliau karena Umar adalah seorang yang kuat.
Tetapi Umar menolak, dengan mengatakan, kekuatanku akan berfungsi dengan keutamaan yang ada padamu. Lalu Umar membai’ah Abu Bakar dan diikuti oleh sahabat-sahabat lain dari Muhajirin dan Anshor.
- Ramalan Rasulullah tentang pemimpin : "Kalian akan berebut untuk mendapatkan kekuasaan. Padahal kekuasaan itu adalah penyesalan di hari Kiamat, nikmat di awal dan pahit di ujung. (Riwayat Imam Bukhori).
Dari Ma’qil bin Yasaar radiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Tiada seorang hamba ditunjuk oleh Allah azza wajalla memimpin rakyat, kemudian ia meninggal sedang ia melakukan penipuan terhadap yang dipimpinnya, keculai Allah SWT mengharamkan baginya (masuk) syurga.” HR Bukhari dan Muslim
- Peringatan kepada para pemimpin : "Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawabannya. Imam (kepala negara) adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawabannya atas kepemimpinannya...".
“Siapa yang diberikan Allah kekuasaan mengurus urusan kaum Muslimin, kemudian ia tidak melayani mereka dan keperluan mereka, maka Allah tidak akan memenuhi kebutuhannya.” (Riwayat Abu Daud).
Dan dalam riwayat at-Tirmizi disebutkan : “Tidak ada seorang pemimpin yang menutup pintunya dari orang-orang yang memerlukannya dan orang fakir miskin, melainkan Allah juga akan menutup pintu langit dari kebutuhannya dan kemiskinannya.
Adakah yang mau jadi pemimpin setelah mereka tahu akan itu semua??
Perhatikan bagaimana para sahabat dalam hal kepemimpinan:
Abu Bakar Shiddiq diriwayatkan, sebelum diminta menjadi Khalifah menggantikan Rasulullah mengusulkan agar Umar yang menjadi Khalifah. Alasan beliau karena Umar adalah seorang yang kuat.
Tetapi Umar menolak, dengan mengatakan, kekuatanku akan berfungsi dengan keutamaan yang ada padamu. Lalu Umar membai’ah Abu Bakar dan diikuti oleh sahabat-sahabat lain dari Muhajirin dan Anshor.
ADAB BERTETANGGA
Islam telah meletakkan tingginya tempat tetangga dari tetangganya. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda :
"ما زال جبريل يوصيني بالجار ختى ظننت انه سيورِثه"
artinya : "JIbril senantiasa terus mewasiatkan kepadaku tentang hak tetanggahingga aku mengira tetangga akan mendapat bagian dari hak waris" (Muttafaq 'Alaihi)
Pada zaman Dahulu, orang-orang berkata "Tetangga dulu baru rumah", maksudnya adalah memilih tetangga yang baik, lebih utama dan lebih penting dari dari memilih rumah tempat tinggal. Hal tersebut dikarenakan setiap orang akan berada di rumahnya dan bergaul dengan orang sekitarnya lebih banyak daripada keluar atau beraktifitas di tempat lain. Sehingga, selayaknyalah memilih tetangga yang baik dan bertaqwa agar ia bisa hidup tenang dan tentram di dekat mereka, dapat menolongnya dalam kebaikan. RasuLuLlah shallahu 'alaihi wa sallam bersabda : " Sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah orang yang terbaik perlakuan dan pergaulannya dengan tetangganya" (HR. Tirmidzi)
Mengingat betapa pentingnya urusan bertetangga ini, selayaknyalah setiap muslim memenuhi hak-hak tetangga dan bergaul dengan cara yang baik dengan mereka. Allah subhanahu wa ta'aa berfirman:
Artinya "Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukanya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetanga jauh ...". (QS An Nisa: 36)
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa sallam bersabda : "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berbuat baik pada tetangganya". (HR Imam Muslim)
Tetangga mempunyai hak yang sangat besar, Diantaranya:
1. Seorang muslim terhadap musim lain mempunyai hak-hak, menunaikannya dengan baik, menolongnya bila ia meminta bantuan, menjenguknya berulang kali bila ia sakit, memberikan selamat bila ia senang, menghiburnya ketika tertimpa musibah dan menolongnya bila ia membutuhkan bantuan.
2. Mengucapkan salam padanya bila bertemu, melembutkan perkatan, memberikan petunjuk dan nasihat kepada kebenaran.
3. Tidak memberikan gangguan dalam bentuk apapun, tidak mempersempitnya dengan banguan atau jalan, tidak meletakkan kotoran di halaman dan sekitar pekarangannya, tidak menimbulkan kegaduhan dan tidak pula menyebarkan aibnya dengan gosip atau yang lainnya. Rasulullah pernah bersabda :
" Demi Allah ia tidak beriman, demi Allah ia tidak beriman, demi Allah ia tidak beriman". Sahabat bertanya : "Siapa ya RAsulullah?" Beliau bersabda : "Orang yang tetangganya tidak selamat dari kejahatan dan gangguannya." (Muttafaq Alalih)
Sabda beliau yang lain : " Barangsiapa yang beriman pada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia mengganggu tetangganya." (Muttafaq 'alaihi)
4. Memaafkan kesalahannya
5. Memuliakan tetangganya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : " Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. (Muttafaq alaih)
Dan kita tutup dengan pertanyaan salah seorang sahabat kepada Rasulullah : "Ya RAsulullah, sesungguhnya si fulanah banyak melakukan shalat, puasa dan shadaqah, tapi ia tetap mengganggu tetangganya. Beliau bersabda: " Dia di neraka". (HR Ahmad dan Hakim)
Langganan:
Komentar (Atom)