Ahlan wa sahlan

assalamu alaikum bagi anda saudaraku yang menyempatkan diri bersua dengan buah penaku. Semoga anda mendapatkan manfaat dan sudi berbagi pengalaman dan ilmu dengan ana

Senin, 12 Oktober 2009

Halal dan HAram

Dari Abu Abdullah An-Nu’man bin Basyir ra berkata,”Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya yang Halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan diantara keduanya ada perkara yang samar-samar, kebanyakan manusia tidak mengetahuinya, maka barangsiapa menjaga dirinya dari yang samar-samar itu, berarti ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya, dan barangsiapa terjerumus dalam wilayah samar-samar maka ia telah terjerumus kedalam wilayah yang haram, seperti penggembala yang menggembala di sekitar daerah terlarang maka hampir-hampir dia terjerumus kedalamnya. Ingatlah setiap raja memiliki larangan dan ingatlah bahwa larangan Alloh apa-apa yang diharamkan-Nya. Ingatlah bahwa dalam jasad ada sekerat daging jika ia baik maka baiklah seluruh jasadnya dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Sesuatu yang ditegaskan HALAL nya oleh Allah, maka dia adalah halal, seperti firman Allah (QS. Al-Maa’idah 5 : 5),”Aku Halalkan bagi kamu hal-hal yang baik dan makanan (sembelihan) ahli kitab halal bagi kamu” dan firman-Nya dalam (QS. An-Nisaa 4:24), “Dan dihalalkan bagi kamu selain dari yang tersebut itu” dan lain-lainnya.

Adapun yang Allah nyatakan dengan tegas HARAM ya, maka dia menjadi haram, seperti firman Allah dalam (QS. An-Nisaa’ 4:23), “Diharamkan bagi kamu (menikahi) ibu-ibu kamu, anak-anak perempuan kamu …..” dan firman Allah (QS. Al-Maa’idah 5:96), “Diharamkan bagi kamu memburu hewan didarat selama kamu ihram”. Juga diharamkan perbuatan keji yang terang-terangan maupun yang tersembunyi. Setiap perbuatan yang Allah mengancamnya dengan hukuman tertentuatau siksaan atau ancaman keras, maka perbuatan itu haram.

Adapun yang SYUBHAT (samar) yaitu setiap hal yang dalilnya masih dalam pembicaraan atau pertentangan, maka menjauhi perbuatan semacam itu termasuk wara’. Para Ulama berbeda pendapat mengenai pengertian syubhat yang diisyaratkan oleh Rasulullah . Pada hadits tersebut, sebagian Ulama berpendapat bahwa hal semacam itu haram hukumnya berdasarkan sabda Rasulullah, “barangsiapa menjaga dirinya dari yang samar-samar itu, berarti ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya”. Barangsiapa tidak menyelamatkan agama dan kehormatannya, berarti dia telah terjerumus kedalam perbuatan haram.

Manajemen amalan manusia berpusat pada HATI nya, berdasarkan sabda Rasulullah SAW : “Jika baik , maka seluruh tubuh menjadi baik dan jika rusak maka seluruh tubuh pun menjadi rusak”. Bahkan Allah SWT menegaskan dalam al Qur’an (QS Al Hajj : 46) ” Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi lalu meraka mempunyai HATI yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunya TELINGA yang dengan itu mereka dapat mendengar…..”

Rabu, 15 Juli 2009

Pemakan bangkai saudaranya

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujuraat:12)

Allah berfirman, “Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.” Ayat ini mengandung larangan berbuat ghibah. Dan telah ditafsirkan pula pengertiannya oleh Rasulullah SAW sebagaimana yang terdapat di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud bahwa Abu Hurairah r.a. berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan ghibah itu?” Rasulullah menjawab, “Kamu menceritakan perihal saudaramu yang tidak disukainya.” Ditanyakan lagi, “Bagaimanakah bila keadaan saudaraku itu sesuai dengan yang aku katakan?” Rasulullah SAW menjawab, “Bila keadaan saudaramu itu sesuai dengan yang kamu katakan, maka itulah ghibah terhadapnya. Bila tidak terdapat apa yang kamu katakan maka kamu telah berdusta.”

Ghibah adalah haram berdasarkan ijma’. Tidak ada pengecualian mengenai perbuatan ini kecuali bila terdapat kemaslahatan yang lebih kuat, seperti penetapan kecacatan oleh perawi hadits, penilaian keadilan, dan pemberian nasihat. Sedangkan selain itu tetap dalam pengharaman yang sangat keras dan larangan yang sangat kuat. Itulah sebabnya Allah SWT menyerupakan perbuatan ghibah dengan memakan daging manusia yang sudah menjadi bangkai.

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Setiap harta, kehormatan, dan darah seorang muslim adalah haram atas muslim lainnya. Cukup buruklah seseorang yang merendahkan saudaranya sesama muslim.”
Diriwayatkan pula oleh Imam Abu Dawud dari Anas bin Malik r.a. bahwa Rasulullah bersabda, “Ketika aku diangkat ke langit, aku melewati suatu kaum yang berkuku tembaga yang mencakar wajah dan dada mereka.” Aku bertanya, ‘Siapakah mereka itu, hai Jibril?’ Jibril menjawab, ‘Mereka itulah orang yang selalu memakan daging-daging orang lain dan tenggelam dalam menodai kehormatan mereka.’” Hadits tersebut diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad.

Telah diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim bahwa Sa’id al-Khudri berkata, “Kami bertanya, ‘Ya Rasulullah, ceritakanlah kepada kami apa saja yang telah engkau lihat pada malam engkau diperjalankan Allah.’ Rasulullah SAW menjawab, ‘…Kemudian Jibril membawaku pergi menuju sekelompok makhluk Allah yang sangat banyak, terdiri atas laki-laki dan wanita. Ada sejumlah orang yang menunggui mereka dan bersandar pada lambung salah seorang di antara mereka. Kemudian orang itu memotong lambung mereka sekerat sebesar sandal, lalu meletakkannya di mulut salah seorang di antara mereka. Kemudian dikatakan kepadanya, ‘Makanlah sebagaimana dulu kamu telah memakannya.’ Dan dia tahu daging yang harus dimakannya itu berupa bangkai. Hai Muhammad, kalau dia mengetahuinya sebagai bangkai, tentu dia sendiri sangat membencinya.’ Sedangkan, dia dipaksa untuk memakan dagingnya itu.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Tahukah kalian apa itu ghibah?”, Mereka menjawab: “Allah dan rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau bersabda: “Yaitu engkau menceritakan tentang saudaramu yang membuatnya tidak suka.” Lalu ditanyakan kepada beliau: “Lalu bagaimana apabila pada diri saudara saya itu kenyataannya sebagaimana yang saya ungkapkan?” Maka beliau bersabda: “Apabila cerita yang engkau katakan itu sesuai dengan kenyataan maka engkau telah meng-ghibahinya. Dan apabila ternyata tidak sesuai dengan kenyataan dirinya maka engkau telah berdusta atas namanya.” (HR. Muslim)

Diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Wahai sekalian orang yang telah menyatakan Islam dengan lisannya namun iman belum masuk ke dalam hatinya, janganlah kalian semua menyakiti sesama muslim, janganlah kalian membuka aib mereka, dan janganlah kalian semua mencari-cari (mengintai) kelemahan
mereka. Karena siapa saja yang mencari-cari kekurangan saudaranya sesama muslim maka Allah akan mengintai kekurangannya, dan siapa yang diintai oleh Allah kekurangannya maka pasti Allah ungkapkan, meskipun dia berada di dalam rumahnya.” (HR. at-Tirmidzi, dishahihkan oleh al-Albani dalam shahih sunan at-Tirmidzi 2/200)

“Ghibah itu lebih keras daripada zina.” Mereka bertanya: “Bagaimana ghibah lebih keras dari zina, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Sesungguhnya seseorang telah berzina, kemudian bertaubat dan Alloh pun mengampuni dosanya, sedangkan orang yang melakukan ghibah tidak akan diampuni Allah, hingga orang yang di-ghibah-nya mengampuninya.” (HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman)

Senin, 08 Juni 2009

Adab terhadap Allah

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman : "Allah yang tiada sesembahan yang hak selain Ia. IA mempunyai nama-nama yang baik." (QS Thaha)

Sesungguhnya Allah Ta'ala yang telah menciptakan kita, dengan nikmat yang diberikannyalah kita hidup, dari rezeki-Nya pula kita menikmati umur, Dialah sesembahan yang berhak disembah, untuk beribadah kepada-Nya kita diciptakan, dan untuk ketaatan kepada-Nya kita ada. Oleh karena itu, seorang muslim harus beradab kepada-Nya dengan sebaik-baik adab yang tidak diberikan adab itu kecuali untuk-Nya.

1. Setiap muslim melihat semua kenikmatan yang dirasakannya, semua itu dari Allah sebagaiman Firman Allah yang artinya: "Nikmat apapun yang kamu rasakan, itu dari Allah." (QS An NAhl)
Mak orang yang diberikan nikmat oleh Allah hendaknya bersyukur dengn hatinya, memuji dengan lidahnya, dan mengakui keutamaannya, lalu menggunakan kenikmatan ini dalam kataatan kepada Allah. Allah subhanahu wa ta'aa berfirman : "Dan bersyukurlah kepadaku dan janganlah kalian kufur..." (QS. Al BAqarah)
Rasulullah pun telah mengajarkan kepada kita untuk senantiasa mengucapkan : "Aku mengakui kenikmatan yang Engkau berikan kepadaku (yaa Allah)." (HR. Bukhari)

2. Seorang muslim yang bertaqwa, akan selalu merasa diawasi oleh Allah Tabaaroka wa Ta'ala pada setiap detik=detik kehidupannya. Ia tahu, bahwasannya Allah Maha Mengetahui akan seluruh rahasianya, Allah maha menyaksikan segala aktifitas hidupnya. Maka, ia malu untuk bermaksiat sedang Allah melihatnya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Allah senantiasa mengawasi kalian." (QS. An Nisa)

3. Seorang muslim, juga akan senantiasa emnyadari Kemampuan dan Qudrat Allah atas segala sesuatu. Dengan demikian, mereka Tawakkal kepada-NYa. Allah berfirman : "Dan Kepada Allah lah orang-orang beriman berserah diri."

4. Seorang muslim juga menyaksikan lusnya Rahmat Allah dan kelembutan-Nya kepada makhluk-Nya, sebagaimana mereka tahu akan pedihnya adzab dan siksaan serta balasan-Nya. Maka ia akan tenang dengan rahmat Allah dann takut akan adzab-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam Firman-Nya: "Dan Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu." (QS Al A'raf)
dan Ia juga berfirma: "Sesungguhnya adzab Tuhan-mu amatlah pedih." (QS. Al Buruj)

5. dan yang terpenting dari semua itu adalah, seorang muslim mengetahui dan mengimani bahwa Allah maha esa, tempayt bergantung segala sesuatu, tidak beranak dan tidak pul diperanakkan, tidak ada yang sama dengan-Nya, maka hanya kepada-Nyala ia beribadah, berdo'a dan menyandarkan segala sesuatunya.

Dengan beradab kepada Allah subhanahu wa ta'ala, akan meninggikan derajat seorang muslim, menguatkan imannya, dan trmasuk di antara orang-orang yang mulia. Allah ta'ala berfirman : "Sesungguhnya yang peling mulia di antara kalian di sisi Allah, adalah yang paling bertaqwa." (QS. Al Hujurat)

Kamis, 04 Juni 2009

PEMIMPIN

Seperti apakah semestinya pemimpin yang didambakan kaum muslimin? adakah sosok yang seperti itu sekarang ini? sebelum kita memperluas permbicaraan, ada baiknya kita simak hal-hal berikut ini:

- Ramalan Rasulullah tentang pemimpin : "Kalian akan berebut untuk mendapatkan kekuasaan. Padahal kekuasaan itu adalah penyesalan di hari Kiamat, nikmat di awal dan pahit di ujung. (Riwayat Imam Bukhori). 

Dari Ma’qil bin Yasaar radiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Tiada seorang hamba ditunjuk oleh Allah azza wajalla memimpin rakyat, kemudian ia meninggal sedang ia melakukan penipuan terhadap yang dipimpinnya, keculai Allah SWT mengharamkan baginya (masuk) syurga.” HR Bukhari dan Muslim

- Peringatan kepada para pemimpin : "Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawabannya. Imam (kepala negara) adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawabannya atas kepemimpinannya...".

“Siapa yang diberikan Allah kekuasaan mengurus urusan kaum Muslimin, kemudian ia tidak melayani mereka dan keperluan mereka, maka Allah tidak akan memenuhi kebutuhannya.” (Riwayat Abu Daud).

Dan dalam riwayat at-Tirmizi disebutkan : “Tidak ada seorang pemimpin yang menutup pintunya dari orang-orang yang memerlukannya dan orang fakir miskin, melainkan Allah juga akan menutup pintu langit dari kebutuhannya dan kemiskinannya.

Adakah yang mau jadi pemimpin setelah mereka tahu akan itu semua??
Perhatikan bagaimana para sahabat dalam hal kepemimpinan:

Abu Bakar Shiddiq diriwayatkan, sebelum diminta menjadi Khalifah menggantikan Rasulullah mengusulkan agar Umar yang menjadi Khalifah. Alasan beliau karena Umar adalah seorang yang kuat.

Tetapi Umar menolak, dengan mengatakan, kekuatanku akan berfungsi dengan keutamaan yang ada padamu. Lalu Umar membai’ah Abu Bakar dan diikuti oleh sahabat-sahabat lain dari Muhajirin dan Anshor.

ADAB BERTETANGGA


Berseberangan penapat, berselisih, bertengkar dan tidak saling sapa dengan tetangga seakan  menjadi hal lumrah, tidak perlu ditanggapi serius. Bahkan, yang lebih berbahaya, hal-hal tersebut telah menjadi kebudayaan dan sulit terpisahkan dari kehidupan masyarakat muslim kini. Seperti inikah gambaran kasih sayang yang diajarkan agama yang penuh rahmat ini? apakشh hal seperti ini yang juga menjadi pilihan dan pengisi waktu luang anda??


Islam telah meletakkan tingginya tempat tetangga dari tetangganya. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda :
"ما زال جبريل يوصيني بالجار ختى ظننت انه سيورِثه"
artinya : "JIbril senantiasa terus mewasiatkan kepadaku tentang hak tetanggahingga aku mengira tetangga akan mendapat bagian dari hak waris" (Muttafaq 'Alaihi)

Pada zaman Dahulu, orang-orang berkata "Tetangga dulu baru rumah", maksudnya adalah memilih tetangga yang baik, lebih utama dan lebih penting dari dari memilih rumah tempat tinggal. Hal tersebut dikarenakan setiap orang akan berada di rumahnya dan bergaul dengan orang sekitarnya lebih banyak daripada keluar atau beraktifitas di tempat lain. Sehingga, selayaknyalah memilih tetangga yang baik dan bertaqwa agar ia bisa hidup tenang dan tentram di dekat mereka, dapat menolongnya dalam kebaikan. RasuLuLlah shallahu 'alaihi wa sallam bersabda : " Sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah orang yang terbaik perlakuan dan pergaulannya dengan tetangganya" (HR. Tirmidzi)

Mengingat betapa pentingnya urusan bertetangga ini, selayaknyalah setiap muslim memenuhi hak-hak tetangga dan bergaul dengan cara yang baik dengan mereka. Allah subhanahu wa ta'aa berfirman:
Artinya "Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukanya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetanga jauh ...". (QS An Nisa: 36)

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa sallam bersabda : "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berbuat baik pada tetangganya". (HR Imam Muslim)

Tetangga mempunyai hak yang sangat besar, Diantaranya:

1. Seorang muslim terhadap musim lain mempunyai hak-hak, menunaikannya dengan baik, menolongnya bila ia meminta bantuan, menjenguknya berulang kali bila ia sakit, memberikan selamat bila ia senang, menghiburnya ketika tertimpa musibah dan menolongnya bila ia membutuhkan bantuan.

2. Mengucapkan salam padanya bila bertemu, melembutkan perkatan, memberikan petunjuk dan nasihat kepada kebenaran.

3. Tidak memberikan gangguan dalam bentuk apapun, tidak mempersempitnya dengan banguan atau jalan, tidak meletakkan kotoran di halaman dan sekitar pekarangannya, tidak menimbulkan kegaduhan dan tidak pula menyebarkan aibnya dengan gosip atau yang lainnya. Rasulullah pernah bersabda :
" Demi Allah ia tidak beriman, demi Allah ia tidak beriman, demi Allah ia tidak beriman". Sahabat bertanya : "Siapa ya RAsulullah?" Beliau bersabda : "Orang yang tetangganya tidak selamat dari kejahatan dan gangguannya." (Muttafaq Alalih)
Sabda beliau yang lain : " Barangsiapa yang beriman pada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia mengganggu tetangganya." (Muttafaq 'alaihi)

4. Memaafkan kesalahannya

5. Memuliakan tetangganya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : " Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. (Muttafaq alaih)

Dan kita tutup dengan pertanyaan salah seorang sahabat kepada Rasulullah : "Ya RAsulullah, sesungguhnya si fulanah banyak melakukan shalat, puasa dan shadaqah, tapi ia tetap mengganggu tetangganya. Beliau bersabda: " Dia di neraka". (HR Ahmad dan Hakim)