Aku hidup dan tertuntun bergelut dengan zaman yang kutiti.
Mendaki bukit tuk meraih kepuasan dan kebebasan dari dari hawa lembah yang
membinasakan. Bersusah payah menahan sakit melawan penat. Hingga ku tiba di
puncak kemampuanku.
Dari sini kumampu melihat bukit dan sekelilingnya bahkan
dapat bercerita tentangnya.
Beberapa manusia pun mengetahui perihalku. Mereka pun ingin
naik merasakan nikmat segarnya angin yang sama dan memintaku untuk membimbing
mereka.
Berbelas kasih mulai kujawab harapan mereka dengan mulai
belajar menunjuk arah. Tak nyana mereka mengangguk-angguk dan bersimpati sambil
menghaturkan senyum. Terbawalah namaku oleh angin di sana den di sini.
Dunia pun memandangku, menawarkan singgasana di atas awan.
Hingga kumulai terpesona. hendak membalas senyumnya yang terlalu manis, sebelum hidungku tertimpa kotoran
perpati yang berlalu. Ku tengok ke atas lalu kupandang. ..
Awan masih terlalu rendah, aku ingin lebih di atas lagi…
jauh dia atas biru yang kupandang. Jauh di atas ketinggian yang dipanjat pemuja
dunia. Aku ingin surga dan singgasananya. Aku ingin memeluk bidadari-bidadari
yang tak melelahkan mata. Aku hendaki nikmat dan cinta yang tak berjangka.
Lebih dari itu, aku ingin bebas dari jilatan kesengsaraan meski setipis bulu.
Jauh dari itu aku ingin memandang wajah kekasihku, pujaanku, penolong dan
penguasaku. Memandang wajahnya sejelas-sejelasnya. Menikmati keindahaan tiada
tara saat tabir terbuka. Aku rindu itu, aku rindu melebihi apapun jua.
Lalu kutermenung dengan tetesan yang deras dari mata.
Aku tak menerima tawaranmu wahai dunia ! engkaulah pengikat
kebebasanku. Ku kan bersabar hingga maut melepas simpulmu.
Lalu ku mulai mengais tanah, menerima hukuman dunia atas
penolakanku. Tapi rindukuakan nikmat abadi menahanku tuk berpaling.
Yaa Allah, aku telah mengkhianati perjanjianku
berulang-ulang. Namun akupun tak henti memandang ampunan-Mu. Aku mencintai-Mu
dan Engkaulah Dzat yang paling tahu isi qalbuku. Jika umurku masih tersisa,
tunjukkan aku keridhaan-Mu dan mudahkan aku menempuhnya.
Wahai Dzat pencipta cinta dan paling layak dicintai. Namun
pun bila Engkau mengakhirinya hadiahkanlah aku penutup usia yang indah. Wahai
Dzat yang maha menepati janji, pertemukan aku dengan segala yang kurindui.
Wahai dzat Maha pengasih, curahkan kasih saying pada dua
insan yang paling pertama mencintai dan mengasihiku. Ampuni kesalahan mereka
dan persatukan keduanya dalam keabadian nikmat-Mu.
Wahai Dzat yang kusembah, bahagiakanlah Istri-istri dan
anak-anakku, sebab mereka telah menolongku dalam menyembahmu. Dengan kasih-Mu
pulalah aku telah mengasihi mereka dan mengajarkan mereka mencintai-Mu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar