detik detik cinta. Saat saat abadi dalam benak, yang membawa semua makna kebahagiaan.
Kita telah melaluinya, meskipun telah menjadi kenangan yang
menyakitkan. Maka usahlah sesali. Mawar yg telah kering dan hilang
baunya tanpa menyisakan apapun lagi. Ingatlah, ia telah hadiahkan saat
saat wangi nan indah
Sastra Muallim's Pen
Bersorak dalam diam, Dunia sambut penuh tenang
Minggu, 28 April 2013
Sepasang
kau kisahkan ttg bintang
sedang fajar sudah datang
kuliat senyummu tiada riang
padahal jodoh mesti datang
Biarkan daun tumbuh merindang
tidak kan mampu menimbun batang
jangan luaskan mautmu datang
sebelum tubuhmu hidup sepasang
sedang fajar sudah datang
kuliat senyummu tiada riang
padahal jodoh mesti datang
Biarkan daun tumbuh merindang
tidak kan mampu menimbun batang
jangan luaskan mautmu datang
sebelum tubuhmu hidup sepasang
Kerat Pilu Malam Sedih
Kisah malam ini...
Awal mengguntur...
Memancing dentum-dentum kasar ...
Tenggelam dalam mengobok samuderaku...
Sebutanku tercemar kotor aromanya...
Dada seisi samudera yg dasarnya dalam menyelam merambati dasar firdaùs...
Sekerat kisah menggesernya paksa menyenggol pinggul jahannam...
Wangi semerbak bersejuk rasa titisan telaga kautsar...
Terusir busuknya isi jahannam dan deritanya...
Duhai pilu kisah ini...
Purnama pucat siarkan durjanya...
Langit lampiaskan cambuknya isyaratkan murkanya...
Pasak-pasak berlepas guncangkan buminya...
Duhai kisah malam ini...
Sekiranya riwayatku yang manis bisa menyelimutinya...
Awal mengguntur...
Memancing dentum-dentum kasar ...
Tenggelam dalam mengobok samuderaku...
Sebutanku tercemar kotor aromanya...
Dada seisi samudera yg dasarnya dalam menyelam merambati dasar firdaùs...
Sekerat kisah menggesernya paksa menyenggol pinggul jahannam...
Wangi semerbak bersejuk rasa titisan telaga kautsar...
Terusir busuknya isi jahannam dan deritanya...
Duhai pilu kisah ini...
Purnama pucat siarkan durjanya...
Langit lampiaskan cambuknya isyaratkan murkanya...
Pasak-pasak berlepas guncangkan buminya...
Duhai kisah malam ini...
Sekiranya riwayatku yang manis bisa menyelimutinya...
Wanita
Wanita, jika ia hendak berkhianat, maka sangat mampu ia
lakukan, meski ia terkurung diantara 40 tembok…
Namun, jika ia hendak ikhlas nan setia, maka sejuta pria tak
akan mampu menggoyahkannya, meski ia sendiri di antara mereka.
Wanita, antara makar yang besar atau cinta yang agung
Sastra Sepenuh Hati
Tersenyumlah, seperti pertama kali kau berbahagia,
Menangislah, seakan terakhir kali kau bersedih !
Berjuanglah, seakan kali pertama kau menghadapi kesulitan !
Cintailah, seakan baru saja jantungmu mulai berdetak !
Maafkanlah, layaknya pertama kali kau berinteraksi dengan
manusia !
Lupakanlah, seakan engkau hilang
ingatan !
Lalu mulailah harimu seakan itu adalah saat pertama dari
kehidupanmu !
Tawaran Dunia
Aku hidup dan tertuntun bergelut dengan zaman yang kutiti.
Mendaki bukit tuk meraih kepuasan dan kebebasan dari dari hawa lembah yang
membinasakan. Bersusah payah menahan sakit melawan penat. Hingga ku tiba di
puncak kemampuanku.
Dari sini kumampu melihat bukit dan sekelilingnya bahkan
dapat bercerita tentangnya.
Beberapa manusia pun mengetahui perihalku. Mereka pun ingin
naik merasakan nikmat segarnya angin yang sama dan memintaku untuk membimbing
mereka.
Berbelas kasih mulai kujawab harapan mereka dengan mulai
belajar menunjuk arah. Tak nyana mereka mengangguk-angguk dan bersimpati sambil
menghaturkan senyum. Terbawalah namaku oleh angin di sana den di sini.
Dunia pun memandangku, menawarkan singgasana di atas awan.
Hingga kumulai terpesona. hendak membalas senyumnya yang terlalu manis, sebelum hidungku tertimpa kotoran
perpati yang berlalu. Ku tengok ke atas lalu kupandang. ..
Awan masih terlalu rendah, aku ingin lebih di atas lagi…
jauh dia atas biru yang kupandang. Jauh di atas ketinggian yang dipanjat pemuja
dunia. Aku ingin surga dan singgasananya. Aku ingin memeluk bidadari-bidadari
yang tak melelahkan mata. Aku hendaki nikmat dan cinta yang tak berjangka.
Lebih dari itu, aku ingin bebas dari jilatan kesengsaraan meski setipis bulu.
Jauh dari itu aku ingin memandang wajah kekasihku, pujaanku, penolong dan
penguasaku. Memandang wajahnya sejelas-sejelasnya. Menikmati keindahaan tiada
tara saat tabir terbuka. Aku rindu itu, aku rindu melebihi apapun jua.
Lalu kutermenung dengan tetesan yang deras dari mata.
Aku tak menerima tawaranmu wahai dunia ! engkaulah pengikat
kebebasanku. Ku kan bersabar hingga maut melepas simpulmu.
Lalu ku mulai mengais tanah, menerima hukuman dunia atas
penolakanku. Tapi rindukuakan nikmat abadi menahanku tuk berpaling.
Yaa Allah, aku telah mengkhianati perjanjianku
berulang-ulang. Namun akupun tak henti memandang ampunan-Mu. Aku mencintai-Mu
dan Engkaulah Dzat yang paling tahu isi qalbuku. Jika umurku masih tersisa,
tunjukkan aku keridhaan-Mu dan mudahkan aku menempuhnya.
Wahai Dzat pencipta cinta dan paling layak dicintai. Namun
pun bila Engkau mengakhirinya hadiahkanlah aku penutup usia yang indah. Wahai
Dzat yang maha menepati janji, pertemukan aku dengan segala yang kurindui.
Wahai dzat Maha pengasih, curahkan kasih saying pada dua
insan yang paling pertama mencintai dan mengasihiku. Ampuni kesalahan mereka
dan persatukan keduanya dalam keabadian nikmat-Mu.
Wahai Dzat yang kusembah, bahagiakanlah Istri-istri dan
anak-anakku, sebab mereka telah menolongku dalam menyembahmu. Dengan kasih-Mu
pulalah aku telah mengasihi mereka dan mengajarkan mereka mencintai-Mu
Senin, 07 Januari 2013
seri Adaby-Deefah
Bersolek cinta baris sebaris...
Mulakan goda rayu termanis ....
Aduhai dinda yang paling manis...
Bolehlah kita bermain alis ...
Pulangkan layar putri bertuan ...
Terserang rindu tiada tertahan ...
Apa dikata jasad pangeran ...
Tidak terjangkau tak dapat ditidurkan ...
Jantung Adaby alangkah riang . . .
Nama tersebut dada terguncang ...
Deefah dinanti kini tlah pulang ...
Bersedekap rindu di pangku sayang ...
Gelayut manja kasih kekasih...
Taman Babilon bercinta tidak beralih...
Tanamkan cerita bertinta putih...
Kini terbang tak lagi tertatih...
Langganan:
Komentar (Atom)
