Bersama anak dan istriku, laju motor membawaku keluar dari pintu gerbang perbatasan Enrekang-Rappang. Sebelum meninggalkan rumah tadi, jarum jam telah menunjukkan pukul 02.10 wita. Aku harap bisa segera sampai ke rumah bidan Muli di kota Rappang sebelum shalat Ashar.
Beberapa hari ini, janin dalam kandungan istriku nyaris tak bergerak. Saat ini umur janin itu memasuki bulan keenam. Rasa takut dan khawatir menyerangku, terlebih istriku.
"Kita periksa ke bidan dulu, terus ke Kanie" kataku memecah kebisuan. Istriku sudah terlampau khawatir akan nasib janinnnya. "Kita cuma berusaha, namun semoga Allah memberi hasil yang baik", lanjutku. Meski panik karena sejak subuh tidak ada gerakan sang janin, saya berusaha bersikap tenang. Bertindak seperti panglima perang yang terluka namun menyembunyikan rasa sakitnya kepada prajurit. (Hmh... aku ingin tersenyum sedikit)
Selama dua hari, kami nyaris tak bisa meninggalkan pesantren, karena acara daurah yang berlangsung dalam dua hari itu. Alhamdulillah, selesai sebelum shalat Dzuhur. Sebenarnya sejak pagi, istriku sudah sangat khawatir dan mengajakku segera ke bidan. Tapi entah kenapa, aku sangat tidak ingin ketinggalan kajian tafsir di pagi itu. Mungkin saja anda akan berkata, "Ilmu masih bisa dicari, sedang nyawa sang janin hanya satu." Jika anda benar berpikiran seperti itu, mungkin anda benar. Tapi, entah apa yang saya fikirkan, sama sekali tak hadir dalam benakku untuk mendahulukan ke bidan daripada kajian.
Rappang, pukul 02.20 wita ...
Aku yakin betul, posisi kami sekarang berada tepat seperti petunjuk yang digambarkan oleh kawanku tadi. Tapi, beberapa lorong yang kujajali sepertinya merasa asing dari nama yang kutanyakan. Aneh ! fikirku, padahal menurut cerita yang kudengar dia adalah satu-satunya bidan dengan peralatan lengkap di rumahnya, pasti banyak yang berkunjung ke sana. Bila itu benar, pasti dia dikenal di daerah sini.
"Bidan lain aja yah sayang?" Ucapku membujuknya. "Jangan, kata ummahat, hanya bidan Muli yang memiliki peralatan lengkap."
02.45 witA, alhamdulillah ketemu. Ternyata saya salah menerka arah mata angin tadi, pantas saja ketemu. Alhamdulillah, ada masjid Bambu Runcing yang menjelaskan arah barat kepadaku.
Setelah dipersilahkan masuk, saya tidak basa basi, langsung kusampaikan apa yang terjadi. Maasyaallah, bidan yang ramah itu langsung mengajak istriku ke kamar untuk memeriksanya. Saya pun duduk di ruang tamu ditemani bocah kecilku, Abdullah. Suatu pemandangan menarik saat mencoba menyematkan letihku ke sandaran sofa di ruang tamu, tak ada satupun foto yang tergantung di rumah itu. Hanya topi seragam suaminya yang seorang tentara dan dua buah lemari kaca berisi buku-buku Islami. Ini yang kukatakan menarik, Fiqhussunnah, Shahihul jami', tafsir Ibnu Katsir, Fatwa-fatwa tentang wanita, Riyadhus Shalihin dan banyak buku lainnya. Nampak sekali kalo buku itu sangat dijaga dan sering dibaca. Hmmh.... alhamdulillah. Pemandangan yang sulit didapatkan di tempat lain, apalagi tuan rumah adalah pasangan tentara dan bidan.
Beberapa menit kemudian, keluarlah dua orang itu. Sang bidan nampaknya menenangkan istriku agar tidak panik. Aku masih belum mengerti apa yang telah terjadi. "Saya ngecargh alatnya dulu ya pak?' ucap bidan itu ramah. KAta orang-orang, bidan itu memang selalu ramah dan tenang dalam setiap keadaan.
Aku melirik jam dinding, pukul 03.00 kurang lima menit. "Lama ya bu? soalnya saya ada pengajian abis Ashar."
"oh ngga kok pak, bentar aja kok." Jawabnya.
Pukul 03.05 wita, istriku lalu dibawa kembali ke dalam kamar pemeriksaan.
Adzan Ashar sebentar lagi dikumandangkan. pukul 03.20... Tiap detik jadi sangat berharga bagiku, dua tepi daun.
Di dalam kamar...
Tangan istriku mulai basah oleh keringat sang bidan yang bercucuran. Istriku menangkap keadaan yang kurang baik pada parangai sang bidan. Tadinya bidan ini murah senyum dan sangat tenang. Tapi sekarang, wajahnya pucat pasi, keringatnya membanjir hingga membasahi kerudung dan bajunya. Ia terus melakukan kegiatannya di perut istriku. Melihat hal tersebut, istriku mulai sangat khawatir.
"Ada apa bu?" tanya istriku memberanikan diri.
"Saya tidak menemukan detak jantungnya, tapi tenang saja, karena masih ada tanda-tanda kehidupan." jawabnya sambil menenangkan istriku. Demikianlah cerita yang kudengar setelah pulang.
Doa pun mengalir dari mulut istriku berharap yang terbaik untuk anak dan dirinya.
Di luar kamar pun saya merasakan kegelisahan yang sangat, adzan telah dikumandangkan dan kata bidan pemeriksaannya sangat sebentar, tidak terbikti. Saya merasa mereka sudah terlalu lama di dalam. Saya khawatir sesuatu yang tidak diharapkan bakal terjadi.
03.30 wita, setelah kurang lebih setengah jam, mereka pun keluar dari kamar pemeriksaan. Saya memandang istriku, namun cadarnya menghalangi sinyal keadaan yang terjadi padanya. Kupandangi wajah bidan itu, tiba-tiba ia tersenyum. Kubuang pandanganku, semoga senyuman itu adalah pertanda yang baik...
"Bayinya terlalu lemah pak, kalsiumnya sangat kurang, sehingga gerakannya jarang sekali. Semoga Allah menolong bayi dan ibunya." jelasnya ketika menangkap rona kekhawatiran dari sikapku yang ternyata tanpa sadar telah berdiri sendiri menunggu di depan kamar dan meninggalkan ruang tamu...
Setelah diberi petunjuk dan beberapa obat. Istriku pun menyodorkan 3 lembaran Rp 10.000,- kepada bidan tersebut, sesuai yang dimintanya. Hah.. cuman Rp 30.000?
"BIla dalam tiga hari janinnyanya belum bergerak, kembali ke sini lagi ya!"
Semoga Allah memberkahi bidan itu dan memperbaiki urusan-urusannya.
Kamipun segera mengendarai legenda tua kami ke masjid Hidayatullah, Kanie. Setelah menempuh jarak sekitar 5 km, Alhamdulillah , masih dapat shalat Ashar berjamaah.......
Tiga hari kemudian.......
Benar saja, gerakan sang janin serasa tidak ada peningkatan. Kami pun segera kembali ke bidan. Alhamdulillah, setelah pemeriksaan, ternyata jantung sang janin mulai ada peningkatan, meskipun gerakannya belum ada perkembangan. Sebelum pulang, sang bidan menyarankan untuk banyak mengkonsumsi buah dan kacang hijau.
Hari ini, setelah dua pekan berlalu. Sang janin mulai agresif bergerak. Menurut prediksi tukang urut ibu hamil, kemungkinan besar akan lahir seorang bayi laki-laki dengan melihat posisi dan beberapa gejala lainnya.
MOhon doa para pembaca tuk istri dan calon bayiku, semoga Allah menyelamatkan keduanya dunia dan akhirat... aamiin