Ahlan wa sahlan

assalamu alaikum bagi anda saudaraku yang menyempatkan diri bersua dengan buah penaku. Semoga anda mendapatkan manfaat dan sudi berbagi pengalaman dan ilmu dengan ana

Sabtu, 16 Mei 2009

TEMANKU, JALANKU

Seorang ibu memelas dan penuh kekhawatiran. Pasalnya, baru saja ia menerima kabar, anak semata wayangnya sedang menikmati kegalauan di dalam sel polisi. Usut punya usut, tertangkapnya anak kesayangannya itu buka sebab kesalahan yang menjadi sebab dijebloskannya ia ketempat itu. sesaat sebelum penangkapannya, beberapa orang pemuda mencuri barang dagangan di sebuah toko. Sialnya, setelah mereka menjalankan aksinya, para generasi bangsa tadi mengajak beberapa temannya nongkrong sambil menikmati hasil kerjanya tadi. Sebagian mereka sayangnya tidak tahu kejadian sebelumnya, termasuk anak kesayangan sang ibu. Ternyata aparat kepolisian sedang membuntuti mereka, selanjutnya bisa ditebak, mereka pun digiring ke kantor polisi. Walhasil, sekeluarga harus berkonsentrasi berurusan dengan polisi dan harus menanggung malu di tengah orang sekampung.
Demikianlah salah satu dampak negatif dari pertemanan. Beberapa kasus lain dapat kita saksikan berapa banyak orang yang tertular kebiasaan buruk karena pertemanan, seberapa besar jumlah wanita-wanita yang harus kehilangan kehormatan karena pertemanan dan berapa banyak berapa banyak pula orang yang harus menggadaikan aqidahnya, hanya karena pertemanan. Namun, karena pertemanan pula, tidak sedikit orang yang mantap menata kehidupannya dalam bingkai aqidah yang benar dan tidak terhitung pula penghuni surga yang mendapatkan kehormatan itu bermula dari pertemanan.
Lalu, seperti apa sebanarnya misteri pertemanan itu? Bagaimana menatanya agar terlepas dari kehancuran dunia dan akhirat?
Seorang muslim tidak seharusnya acuh dan menganggap remeh masalah pertemanan ini. Ia mesti tahu sejauh mana manfaat dan mudharat yang akan ia peroleh dari memilih seseorang sebagai teman, yang nantinya akan banyak berinteraksi dala kesehariannya. diriwayatkan oleh Anas bin Malik bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Perumpamaan teman yang baik seperti pemilik wewangian, bila engkau tidak mendapatkan wewangian itu, paling tidak kau akan mendapatkan wanginya. Perumpamaan teman yang buruk seperti pandai besi, bila kau tidak terkena percikan apinya, paling tidak kau akan kebagian asapnya: (HR. Abu Dawud)
Alangkah buruknya pertemanan yang dilandasi hawa nafsu, dimulai dengan tanpa pertimbangan yang matang sesuai kebenaran yang ditetapkan syariat Allah dan ajaran Musthofa Shallallahu 'Alaihi wa sallam. Sebaliknya, alangkah indah dan bahagianya persahabatan yang dimulai dan dilandasi kecintaan pada Allah. Salah satu keutamaan yang akan mereka dapatkan adalah perlindungan dan naungan di akhirat, dimana tidak ada naungan dan perlindungan saat itu kecuali dari Allah. Sebagaimana yang dicatatkan oleh Imam al Bukhari dan Muslim dalam kitab shahih keduanya, serta yang lainnya, dari sabda Rasulullah shalahu 'alaihi wa sallam: "7 golongan yang dilindungi oleh Allah di bawah naungannya pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya : pemimpin yang adil; pemuda yang tumbuh dalam peribadatan pada Allah; pemuda yang menggantungkan hatinya di masjid; dan DUA ORANG PEMUDA YANG SALING MENCINTAI KARENA ALLAH, berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya; pemuda yang diajak berzina oleh wanita yang mempunya kedudukan dan kecantikan, lalu ia berkata 'sesungguhnya aku takut pada Allah'; pemuda yang bersedekah lalu menyembunyikannya, hingga tangan kanan tidak tahu apa yang disedekahkan oleh tangan kirinya; dan pemuda yang berdzikir mengingat Allah dan berlinang air matanya" (Muttafaqqun 'Alaihi)
teman, mestinya adalah orang yang mampu mengoreksi dan meluruskan kesalahan kita, menambah wawasan dan pengetahuan dan dengannya kita mudah menjalankan syari'at yang benar. Seorang penyair berkata : "Sahabat sejatimu adalah orang yang berkata jujur padamu, bukan orang yang selalu membenarkan tindakanmu". Sahabat adalah orang yang mampu membuat kita menangis akan hikmah-hikmah dan keindahan Islam serta ancaman adzab bagi orang-orang yang lalai, bukan orang yang selalu mampu memancing rasa tawa kita, sehingga lupa beristigfar atas dosa yang senantiasa mengalir setiap saat. Sahabat adalah orang yang mampu menjadi saudara kita, mencintai diri kita dengan kebaikan. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Tidak sempurna keimanan salah seorang di antara kamu, hingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri". (HR. Bukhari dan Muslim)